“Memories are what warm you up from inside. But they’re also what tear you apart.”
Aku menemukan baris kalimat yang menggetarkan itu dalam novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore. Kamu meminjamkannya tadi sebelum masuk kamar dan tak keluar lagi. “Daripada bengong, Mas,” pesanmu singkat.
Aku menerimanya dengan enggan. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan di kamar selain menonton TV dan membaca? Moskow pada dinihari tak bagus buat badanku yang tak tahan dingin. Apalagi kulitku selalu alergi bila kedinginan.
Maka pilihanku tinggal membaca Murakami setelah acara televisi pun makin membosankan. Padahal aku belum mengantuk.
Aku bersyukur kamu meminjamkannya tadi. Aku tahu benar kamu sangat suka membaca. Hobimu membaca bahkan nyaris mengalahkan segalanya, kecuali dia. Tak heran bila setiap kali kamu pergi, selalu ada buku atau novel yang kaubawa. Aku juga maklum bila Murakami yang selalu menjadi pilihan pertama bawaanmu.
“Aku suka cara Murakami melukiskan perasaan manusia, Mas,” begitu kamu dulu pernah menjelaskan alasanmu menyukai karya novelis Jepang itu. “Aku juga suka kalimat-kalimatnya yang meneduhkan hati mereka yang mungkin sedang terluka.”
Aku tidak. Murakami terlalu muram buatku. Aku tak menyukai semua yang muram dan perih karena setiap hari aku menjalani hari-hariku seperti itu.
Aku lebih suka novel-novel Tom Clancy atau John Grisham yang memacu adrenalin, meski kadang aku membaca Sidney Sheldon. Murakami aku baca sesekali hanya jika kita bertemu dan kamu kebetulan membawa lebih dari satu buku Murakami.
Tapi malam itu, pada awal musim semi di Moskow, Murakami terasa begitu berbeda. Kalimat-kalimatnya begitu mengena. Mendera hatiku saat itu. Ini salah satunya.
Pain is inevitable. Suffering is optional.
Bersamamu kadang memang menyakitkan. Meski kadang tak kuasa kuhindari. Mengingat semua yang pernah kita lalui tanpa sekalipun pernah menjadi “kita” seperti mengupas kulit bawang. Makin lama, makin pedih.
Tapi aku tak ingin menderita berkepanjangan. Tak mungkin bertahan meranggas sendirian setiap malam menjadi pungguk yang merindukan rembulan.
Kemarin akan berganti hari ini, dan esok telah menanti. Terjepit di antara kamu dan dia sungguh bukan pilihan yang harus kuambil. Toh dinding masa depan harus kubangun dari batu bata hari ini. Tapi ke mana aku harus mengubah arah selain ke parasmu?
Mataku kembali menelusuri larik-larik kalimat dalam Kafka on the Shore.
“Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, like some ominous dance with death just before dawn.
Why?
Because this storm isn’t something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn’t get in, and walk through it, step by step.
There’s no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky like pulverized bones. That’s the kind of sandstorm you need to imagine.
An you really will have to make it through that violent, metaphysical, symbolic storm. No matter how metaphysical or symbolic it might be, make no mistake about it: it will cut through flesh like a thousand razor blades. People will bleed there, and you will bleed too. Hot, red blood. You’ll catch that blood in your hands, your own blood and the blood of others.
And once the storm is over you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.
Setelah membaca kalimat terakhir itu, tiba-tiba aku teringat nasihat seorang teman. “Untuk melihat pelangi, kamu harus melewati hujan.”
Sekarangkah saatnya aku masih harus menikmati hujan yang berderai-derai itu sebelum melihat pelangi?
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010