Perempuanku. Tentu saja kita tidak pernah merayakan yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu. Kita tak pernah mengatur waktu, lalu pergi ke suatu tempat khusus, berdua saja. Tak pernah ada makan malam berdua dengan lilin yang menyala syahdu.
Tidak. Itu semua tidak pernah ada. Buat aku, setiap hari adalah kasih dan sayang. Untukmu. Selalu. Selamanya. Bersamamu, setiap hari adalah istimewa. Dengan atau tanpa makan malam. Dengan atau tanpa lilin.
Bukan. Itu bukan karena kamu adalah nomor dua, tiga, empat atau yang kesekian. Ini bukan tentang siapa nomor berapa. Hidup toh bukan matematika dan statistik. Apalagi sekadar ranking.
Dan ketika tahun demi tahun berlalu, kamu toh tetap segalanya bagiku. Jika kau bilang, sesekali kau terantuk, aku pun demikian. Bahkan berkali-kali. Tapi toh ini bukan sebuah relasi berdasarkan keseimbangan semata. Cinta bukan untuk ditakar dan ditimbang berdasarkan keuntungan. Bukan kutuk gelap yang menghantui setiap detik yang kita lalui.
Ketidaktahuan, juga ketidakpastian, memang membuat kita gamang. Tapi bukankah hidup selalu demikian. Pada akhirnya toh kita semua kalah di ujung hari. Hidup hanya menunda waktu kita — untuk kalah.
Mendung dan matahari datang silih berganti. Begitu juga pasang dan surut. Siang dan malam. Selalu ada dua sisi dalam kehidupan. Maka nikmatilah rasa bosanmu sama riangnya dengan rasa senangmu.
Sadari saja bahwa cinta kita bukan dari sejenis yang biasa. Sesuatu yang dipahami orang-orang sebagai sebagai kebersamaan. Matahari dan bulan toh tak pernah bersama dalam satu langit — di waktu yang sama. Tapi hidup ini membutuhkan mereka. Sebagaimana hidup kita memerlukan hujan dan panas. Musim gugur dan musim semi.
Usahlah kamu semak hati. Sebab siapakah yang dalam hidup ini tak ingin bahagia. Aku? Kamu? Rasanya kita semua mendamba bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia. Proses atau tujuan?
Bahagiaku mungkin tak sama dengan bahagiamu. Tapi aku tak hendak memaksa. Kalau bahagiamu adalah melepasku, tak akan kusesali takdirku. Sebab aku pun tahu. Bagaimana kau akan melepaskanku kalau kamu tak pernah benar-benar memilikiku?
Maka, di hari yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu, aku hanya ingin menegaskan sekali lagi bahwa harapan selalu punya tempat. Seperti lagu yang dilantunkan oleh Enya dengan sendu itu …
One look at love and you may see
it weaves a web over mystery,
all ravelled threads can rend apart
for hope has a place in the lover’s heart.
Hope has a place in a lover’s heart …
Selamat jalan. Semoga kau bahagia. Selalu. Selamanya …
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010