Kamu kupu-kupu yang menari di taman hatiku. Begitulah kamu sejak kita pertama kali bertemu. Lalu tiba-tiba saja kamu ada di perutku. Di dadaku. Di kepalaku.
Hatiku tertambat padamu sejak dulu. Kamulah yang mewarnai musim semiku. Menghangatkan musim saljuku. Dan meneduhkan musim panasku. Di dalam taman hatiku, hanya ada satu kupu-kupu: kamu. Tak ada kupu-kupu lain. Bahkan yang masih berupa kepompong sekalipun di sana.
Itu sebabnya aku selalu heran. Mengapa kamu mencemaskan burung-burung yang cuma singgah sebentar di taman? Burung-burung itu toh tak menghisap nektar atau menyesap embun di pucuk-pucuk dedaunan.
Mereka hanya sejenak menumpang teduh untuk kemudian terbang lagi entah ke mana. Usahlah kamu cemas pada yang sementara. Pada mereka yang hanya mampir dan tak benar-benar tinggal.
Seperti halnya terminal, aku toh bisa saja sesekali menjadi tempat bagi bus-bus dan angkutan kota itu datang mengambil penumpang. Toh aku tak pernah mengikuti bus-bus itu memburu calon penumpang di jalan-jalan yang sesak dan berdebu.
Yang singgah, menumpang berteduh, atau mengambil penumpang itu tentu bukan kupu-kupu. Mereka bukan pemilik, paduka duli, penghuni sejati taman hatiku — seperti dirimu. Kamulah ibu dari segala ibu bumi. Perempuan dari semua perempuan penguasa hati.
Usahlah kamu cemburu pada bayang-bayang. Sesuatu yang tak nyata. Gambaran bahwa aku seolah-olah menikmati pelukan, juga kecupan, perempuan itu ilusi.
Pemandangan tentang senyum yang lebar dan tawa yang membahana di setiap pesta itu pun fatamorgana belaka. Semuanya tak lebih dari perasaanmu yang terbawa arus sesat semata.
Bayangkan saja. Bagaimana mungkin aku mampu menolak pesonamu ketika setiap malam aku justru meranggas menanti teleponmu? Mana mungkin aku menafikan kehadiranmu saat dirimu justru seluruh inspirasiku?
Kamu puisiku. Bait-bait yang tak pernah jemu kutulis. Sajak-sajak yang tertanam di benakku. Prosa yang menjerat hatiku.
Duhai kupu-kupuku, teruslah menari untukku. Teruslah mewarnai hidupku. Temani aku melewatkan musim semi, musim gugur, musim dingin, dan musim panas. Apa adanya. Selamanya ….
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010