Seandainya aku bisa memutar waktu, aku pasti tak hanya hidup bersamamu di masa lalu, tapi juga musim-musim yang hendak kita tuju. Dulu cuma abadi di masa lalu. Terbuat dari batu cadas. Tak bisa diapa-apakan. Masa depan dapat kita bentuk dari sekarang.
Untuk apa kita hidup di masa lalu? Dunia toh terus bergegas lekas. Gerimis turun. Panas meranggas. Begitu seterusnya. Menuju masa depan. Tapi ini soal pilihan apakah kau tetap ingin hidup sendirian di masa lalu, atau mencoba peluang bersamaku di masa depan.
Masa depan menunggu dengan sabar. Seperti aku menantimu. Di sini. Berteman angin yang berdesir-desir. Usahlah kau takut. Jangan pernah merasa sendirian.
Aku toh akan selalu di dekatmu. Mewarnai hidupmu, setiap hari sepanjang waktu. Meski kita berjauhan. Seperti kau dulu juga setia di sebelahku, membacakan puisi-puisi Sara Teasdale menjelang tidur: Let It Be Forgotten.
Let it be forgotten, as a flower is forgotten, Forgotten as a fire that once was singing gold. Let it be forgotten forever and ever, Time is a kind friend, he will make us old. If anyone asks, say it was forgotten Long and long ago, As a flower, as a fire, as a hushed footfall In a long-forgotten snow.
Marilah kita lupakan masa lalu yang biru dan membuat bibirmu kelu. Biarlah perih dan luka disembuhkan oleh waktu.
Waktu adalah teman yang baik. Membuat kita dewasa. Membikin kita lebih kuat. Dan kuat. Lupakan saja yang dahulu. Seperti kabut meninggalkan tanah, kupu-kupu melepas kepompong, dan pelangi meninggalkan hujan.
Musim semi sudah menunggumu. Hari-hari warni-warni ada di depanmu. Hidup tak pernah sama lagi buatmu. Untukku. Kita.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010