Malam ini, aku kembali ke kafe itu. Mencoba memutar kembali kenangan masa silam. Tapi gagal. Kupandang gelas-gelas ice lemon grass yang kosong. Sisa-sisa oglio olio di piring.
Kudengar suara The Titans menyanyikan refrain lagu yang pedih itu … … ku kan pergi jauh bawa cintaku tanpa hadirmu di sisiku ku berharap bintang datang temani langkahku dalam sepi …
Malam ini, aku ditikam sepisau sepi. Malam ini, berpuluh purnama setelah aku pergi meninggalkanmu untuk berkelana ke masa depan. Aku cuma bisa terpaku memandang helai-helai oglio olio yang tak kuhabiskan itu karut-marut seperti kisah hidup kita.
Ke manakah gerangan kau sekarang berada, perempuanku? Adakah kau di tepi malam? Masihkah kau mengenang diriku? Apakah kamu melihat bintang dan rembulan yang sama dengan yang kutatap di sini, di balkon kafe ini?
Dulu kita tak pernah alpa menatap bersama bulan ketika purnama dari balkon kafe ini. Juga ketika kita kedinginan di The Peak, Bandung. Di pinggir pematang sawah di Ubud. Di Pantai Senggigi. Di dermaga Labuan Bajo. Di setiap sudut kenangan. Dan kamu masih saja tak percaya bahwa purnama itu selalu berakhir untuk kemudian datang lagi sebulan kemudian.
Mengapa semua itu harus ada awal dan akhir? Begitu kau pernah bertanya, setengah tak percaya. Aku tak mau menjawabnya karena merasa sia-sia meyakinkan dirimu yang selalu saja bertanya. Aku lebih suka memelukmu. Merengkuh pertanyaan dalam kehangatan. Mengganti rasa penasaran dengan kenyamanan.
Aku paling suka mencium rambutmu yang hitam bergelombang dan wangi itu. Tapi kamu tak pernah memberi tahu rahasia merek shampo yang kau pakai untuk mencuci rambutmu. Padahal aku pernah ingin membelikannya sebagai kado.
Ah, aku bahkan masih terbayang sampai sekarang masih hapal benar bagaimana wangi rambutmu mengisi setiap relung hidungku. Menyergap indera penciumanku dengan sensasi yang nyaman.
Malam ini aku mencoba mengais kembali setiap kenangan tentang dirimu di kafe ini. Kucoba mencarinya lewat gelas-gelas ice lemon grass dan sepiring oglio olio. Tapi aku gagal. Dan aku malah terkapar ditikam sepisau sepi …
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010