Suratku kepadamu mungkin memang tak pernah kau duga. Pertanyaanku pun mungkin sesuatu yang sulit kau jawab. Bagaimana mungkin kau dan aku hanya berteman setelah semua yang kita lalui bersama? Bagaimana mungkin kita menafikan perasaan sendiri dan melipat kenangan ke sudut hati? Bagaimana mungkin harapan yang baru menyala langsung kita matikan begitu saja?
Mungkin kamu belum lupa harapan itu terbit ketika pagi baru saja pergi dan siang datang membawa panas — waktu itu. Kabut lesap ditelan cahaya. Matahari baru saja memamerkan sinar yang berdenyar-denyar membakar jangat.
Aku dan dirimu menggelandang ke timur, menantang matahari. Tanganmu dan jemariku saling bertautan, bergandengan bagaikan bintang dan rembulan dan yang berdekatan di jantung rimba malam.
Sejak pertemuan dinihari yang menggetarkan itu, aku dan kamu tak pernah berpisah lagi. Seperti daun dan ranting. Seperti pelangi dan hujan. Seperti kemarau dan lengas. Bila hati saling bertaut, rindu yang ditabalkan berpendar-pendar. Udara wangi seruni.
“Ceritakanlah kepadaku tentang cinta,” tiba-tiba kau meminta.
“Cinta? Aku tak tahu,” jawabku.
“Ayolah, kamu pasti bisa,” kau merengek manja seraya merebahkan kepala ke dadaku.
Aku terdiam, berusaha mengingat sebuah sajak kecil tentang cinta karya Sapardi.
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku ….
Cinta mungkin memang relasi yang tak mudah. Barangkali ia juga bukan sesuatu yang final.
“Proses?” kamu bertanya lagi.
“Mungkin. Aku tak pernah merasa pasti. Maukah kau kupeluk untuk menggambarkan apa itu cinta?”
Kamu tersenyum malu-malu. “Nanti saja setelah gelap, aku malu pada matahari,” katamu.
Aku tergelak, lalu memelukmu. Kuusap-usap rambutmu yang hitam kelam. Kamu malah merengut, dan mencubit pinggangku.
“Mengapa kau bertanya tentang cinta?”
“Karena aku tenggelam dalam pesonamu. Senyummu hangat. Menenangkanku. Aku jadi takut kehilangan dirimu. Inikah cinta? Aku tak mengerti. Akankah kau meninggalkanku?”
“Mana mungkin aku pergi.”
“Aku tak tahu. Siapa yang bisa menujum hatimu. Jalan begitu panjang dan tak lempang di depan … Eh, tapi bagaimana seandainya justru aku yang pergi?” kau ganti bertanya. “Akankah kau baik-baik saja?”
“Mengapa kau bertanya? Kamu mau meninggalkanku?” aku tergagap.
“Tentu saja tidak. Tapi seandainya aku pergi … ” kamu tak meneruskan kalimatmu.
Aku menghentikan langkah, menatap mata rembulanmu.
“Entah. Siapa yang bisa menebak perasaanku esok, lusa, dan kelak,” jawabku untuk meyakinkanmu.“Mungkin aku tak akan menangis, tapi hatiku berdarah-darah.”
“Kalau begitu, aku tak akan pernah meninggalkanmu,” kau berjanji demi matahari.
Kita terus berjalan ke timur. Matahari jatuh di barat. Sinarnya menciptakan bayang-bayang.
“Tapi sampai kapan kita terus berjalan?” kau kembali bertanya.
“Sampai kita lelah dan tak lagi mampu mengangkat kaki.”
“Tidakkah kita membutuhkan tempat berteduh? Rumah?”
“Rumah macam apa yang kau inginkan?”
“Cukup sebuah pondok mungil berhalaman luas. Pohon-pohon berserakan. Rumput hijau basah. Ah, tapi mungkin kau tak akan menyukainya.”
“Siapa bilang. Buat aku, rumah tak perlu besar, yang penting cozy, tenang, teduh …”
“Huh, kukira rumah buatmu adalah tempat di mana ada aku,” kau merajuk.
“Kamu lebih dari sekadar rumah.”
“Lalu apa arti diriku buatmu?”
“Seluruh sisa hidupku.”
Di ujung petang, hujan mendadak jatuh berderai-derai. Angin kencang membuat air keperakan itu berhamburan — seperti sapuan kuas pada lukisan cat air.
Dan sayup-sayup aku seperti mendengar Sting bersenandung dengan suara sengau …
… I want to see your face in every kind of light
In fields of gold and forests of the night
And when you stand before the candles on a cake
Oh, let me be the one to hear the silent of the wish you makeThose tomorrows waiting deep in your eyes
In the world of love you keep in your eyes
I’ll awaken what’s asleep in your eyes
It may take a kiss or twoThrough all of my life
Summer, winter, spring and fall of my life
And I ever will recall of my life
Is all of my life with you …
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010