Mengantarmu pulang, membelah Kota Cahaya menuju Kota Hujan, itu berarti aku bisa menggenggam tanganmu sepanjang 60 kilometer. Itu juga berarti aku bisa mendengar suaramu yang melodius selama 45 menit.
Aku tak peduli bila itu membuat kakiku pegal karena terlalu lama menginjak pedal gas. Aku pun tak keberatan bila itu berarti aku harus menembus hujan yang jatuh bergemuruh. Melewati badai yang menyambar-nyambar sepanjang jalan beraspal nan licin.
Bersamamu adalah segalanya. Segenap keriangan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Mungkin kau tak pernah menyadari, berdua denganmu itu membuat perutku seperti dihuni oleh puluhan kupu-kupu yang menari-nari. Memandang wajahmu yang berkilau disiram cahaya lampu kendaraan bagaikan menatap telaga yang tenang.
Itu sebabnya aku tak pernah bosan mengantarmu pulang. Membawamu kembali ke akal sehat — jauh dari Kota Cahaya yang mengerat tubuh dan waktu kita itu.
Seperti malam itu, setelah senja rubuh ditelan gelap. Kau datang menjemputku, lalu mengajakku mampir di Vietopia sebelum pulang. “Aku ingin menikmati segelas ice lemon grass,” katamu waktu itu.
Segelas lemon grass dingin dan wangi tubuhmu adalah kombinasi yang tak pernah bisa kutolak. Aku selalu terkapar dalam ekstase keriangan dibuatnya.
Adakah kau mengingat sepotong malam di Vietopia itu? Masihkah potret kenangan itu tersimpan dalam album hidupmu?
Aku tak tahu. Seperti juga aku masih tak tahu kenapa kau selalu bertanya tentang perpisahan. Bukankah kita selalu berpisah setelah kau sampai di rumah dan aku harus pulang?
Pergi dan berpisah darimu tak berarti aku tak mencintaimu. Itu hanya sementara. Fana. Seperti halnya cinta.
Cinta adalah ruang dan waktu
datang dan menghilang
… Maafkan cinta atas kabut jiwa
yang menutupi pandangan kalbu … (Dewa 19)
Maka, sekali lagi pahamilah, kita hanya berbeda ruang. Tapi masih satu hati. Kita memang berjarak waktu, namun saling dekat di kalbu.
Usahlah kau puspas hati. Aku toh selalu ada bila kau butuhkan. Kita masih tetap bisa berpalun-palun di sofa kafe mana pun yang kau suka. Menyesap gelas demi gelas ice lemon grass di Vietopia.
Kelak kau pasti bakal mengerti betapa kosongnya rumah hatiku sejak kau tak mau pulang ke sana. Kau akan tahu sungai-sungai kalbuku yang mengalirkan darah setelah kau sayat begitu dalam dengan cinta dan sayangmu.
Malam ini, aku ingin kembali mengantarmu pulang. Menuju rumah. Menuju cinta. Biar susah sungguh. Biar hampir muskil. Sebab, ketika aku tengadah, kulihat langit Jakarta sedikit terang oleh cahaya rembulan yang cuma segaris. Mungkin ini perlambang bahwa di tengah hidup yang semakin kelam, selalu ada harapan di kejauhan, meski dia toh tak abadi karena pasti akan digantikan oleh sinar matahari esok pagi.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010