Dirimu…
tak pernah menyadari
semua…
yang telah kau miliki
kau buang aku, tinggalkan diriku
kau…hancurkan aku seakan ku tak pernah ada …
Aku mendengar Vierra menyanyikan lagu itu dengan perih di Tea Addict di Jalan Gunawarman pagi itu. Sendirian. Hujan jatuh dan membasahi Jakarta. Dan tempat minum di dekat kantormu itu sedang sepi di jam-jam seperti ini.
Sempurna. Hujan, sepi, dan secangkir cammomile pesananku sepertinya bersekongkol melemparkan diriku ke masa lalu. Pada waktu kita masih sering ke sini setiap kali aku menjemputmu. Malam-malam berdua saja. Dengan tawamu yang berderai-derai.
Aku ingat kamu paling suka ice mint green tea, yang selalu kau pesan setiap kali kita ke sana. Pernah kutanyakan mengapa kau suka minuman itu. “Karena ada es krim vanilanya,” jawabmu.
Kelak aku tahu kecupan bibirmu pun ternyata memang selezat es krim vanila.
Tapi pagi ini tak ada kecupan untukku lagi. Dan entah kenapa aku nekat ke sini sendiri. Mungkin karena aku tengah merindukanmu, bersama segenap kemesraanmu. Barangkali juga lantaran aku telah lama meranggas — kehilangan pelukan dan kecupanmu yang selezat es krim vanila.
Aku masih ingat benar kamu selalu memilih sofa kulit di pojokan itu sebagai tempat kita berdua menghabiskan waktu berdua. Aku tahu, kamu memilihnya karena di situ kakimu bisa berselonjor. Dan kamu bisa melendot ke punggungku sepanjang malam, hingga penjaga kafe itu dengan tersenyum bertanya seraya mengingatkan, “Ada last order, Mbak? Kami mau tutup.”
Di sofa itulah biasanya kamu mulai bercerita tentang pekerjaan sehari-hari yang membuat punggung kita seperti ditindih tumpukan besi beton. Perihal teman-temanmu yang ajaib. Yang satu suka kucing dan cokelat, tapi galaknya minta ampun. Yang satu lagi pintar membuat ilustrasi, tapi tak mampu membedakan antara Doraemon dan Dora the Explorer.
Aku selalu menikmati ceritamu yang mengalir lancar seperti sungai-sungai di kaki Himalaya. Err .. Bukan. Maksudku sebenarnya bukan cerita yang kau katakan, tapi bagaimana kamu mengatakannyalah yang membuatku tergila-gila.
Aku selalu memperhatikan bagaimana tanganmu selalu ikut bergerak ketika melukiskan sesuatu. Dan sesekali mencubit pinggangku bila aku menguap. Matamu yang menyala-nyala, kadang meredup, mengikuti dramatisasi cerita itu. Dan bibirmu yang selalu terbuka dan merekah setiap kali kau mengambil jeda. Semua gerak tubuhmu itulah yang membuat aku memujamu.
Tubuhmu ibarat sebuah pentas. Tempat sebuah pertunjukan dipertontonkan. Kamu tarian. Sendratari. Drama. Konser. Big band. Puisi yang dibacakan oleh para penyair setiap malam.
Pagi ini, ketika hujan menderas, aku mengenang lagi semua tentang dirimu. Perihal perpisahan yang absurd itu. Ihwal “kita” yang tak pernah final. Tentang cintaku kepadamu yang selalu kau gugat. Tentang hatimu yang selalu meragukan ketulusanku.
Kepingan-kepingan masa lalu bersamamu itu kuhadirkan kembali sebagai menu sarapan pagi, menemani secangkir teh cammomile yang kupesan. Kali ini tanpa cangkir pasangannya, ice mint green tea dengan es krim vanila di atasnya.
Aku kan bertahan
meski tak kan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih … walau perih …
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010