Kita memang berpisah hari itu. Pada musim panas yang mendidih. Tapi mungkin kau tak tahu. Ketika kau menyeret koper meninggalkan diriku, seluruh hatiku ikut terangkut bersamamu.
Aku memang tak menoleh waktu itu. Karena aku tahu mata hatiku selalu di belakang langkahmu. Mengikuti dengan takzim ke mana pun kau pergi.
Seandainya kamu lebih sabar dan melihat lebih jernih, mungkin kau bakal tahu seberapa dalam luka jiwa yang kau sayat dengan prasangkamu. Luka hati dibawa mati. Luka jiwa, kubawa ke mana?
Dan seandainya saja kau sudi tinggal lebih lama dan melihat dengan lebih tenang di ruangan itu, kamu akan tahu bawah gelas-gelas anggur itu berdenting bukan untukku. Pelukan dan kecupan itu hanya hiasan semu. Senyum dan tawa itu bukan untuk kebahagiaanku. Semuanya adalah topeng. Tembok yang dibangun atas dasar kepentingan. Kepentingan siapa? Yang jelas bukan milikku.
Mata dan kata hatiku tersimpan rapat-rapat di lubuk sanubariku. Cuma kamu yang punya kunci untuk membuka dan menjenguknya. Tapi mungkin kau telah membuangnya entah ke mana. Barangkali kau memang tak sudi menengoknya barang sejenak.
Jika itu benar, aku mungkin akan menjadi orang paling sial di dunia ini. Seperti pungguk yang meminang rembulan ketika ternyata sang bulan telah menjatuhkan pilihan.
Tapi aku percaya pada dirimu. Kamulah orang yang selalu percaya bahwa cinta tak membuat kita saling terluka. Seperti yang pernah kau bisikkan di telingaku ketika kita menanti gerimis reda di kafe itu. Bahwa selalu ada setitik harapan di ujung lorong yang gelap.
Sometimes, in our lives, we all have pain, we all have sorrow. But, if we are wise, we know that there is always tomorrow.
Begitulah kata para bijak bestari yang kukutip dengan semena-mena waktu itu dan kusampaikan sebagai jawaban. Dan kurasa mereka benar. Siapa yang tahu apa yang akan dibawa oleh esok.
Kita?
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010