Dari manakah datangnya luka dan air mata? Aku tak tahu. Tapi dari hidup aku belajar merasakannya. Dan lama-lama aku pun terbiasa menikmatinya.
Dari sanalah aku tahu bahwa luka yang paling pedih adalah ketika kita tahu apa yang kita mau tapi tak dapat meraihnya.
Tahukah kamu, justru kamulah luka itu bagiku? Aku tahu aku menginginkanmu. Sangat. Tapi bertahun-tahun kemudian terbukti bahwa sungguh susah aku meraihmu. Mendapatkan dirimu.
Kamu bayang-bayang yang selalu terbang setiap kali tanganku tinggal sejengkal lagi menggapainya. Kamu dekat, tapi tak tersentuh.
Mungkin kamu tak pernah sadar betapa tersiksanya malam-malamku menahan keinginan untuk tak meneleponmu. Mengirim SMS. Dan bagaimana aku susah payah menepis pesonamu yang tiap hari kian menjeratku.
Kamu mungkin bahkan tak pernah paham bagaimana hatiku berdarah meski air mataku tak keluar setiap kali mengingatmu. Mengenangmu. Dengan mata setengah terpejam.
Padahal tak banyak yang aku mau. Aku cuma ingin kamu menjadi puisiku setiap malam. Baris-baris sajak yang bisa kutulis hingga dinihari berganti pagi. Itu saja. Tidak lebih.
Entah kenapa selalu ada ruang, jarak yang membuat kita sulit bertaut. Itu sebabnya aku pernah menuliskan surat untukmu, berpuluh purnama yang lalu. Mungkin kamu masih ingat surat yang berbunyi seperti ini:
“Kutulis surat ini setelah berbelas musim aku terbang menuju matahari. Demi ruang, juga jarak.
Untuk apa? Kau bertanya.
Kujawab demi kita.
Tapi ternyata aku kemudian mengerti bahwa kita adalah gagasan yang rumit. Antara ada dan tiada. Pernah ada masanya kau dan aku satu. Tapi tak menjadi kita.
Kita mungkin seperti matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi, tapi tak selalu di ranjang yang sama.
Kita barangkali sebuah angan yang absurd. Tentang unifikasi sebuah relasi yang menggetarkan, sekaligus memedihkan.
Itu sebabnya aku butuh jarak dan ruang. Demi kita.
Kita tak sedang hidup di taman yang teduh dengan telaga yang tenang. Hidup kita adalah kereta harapan yang bersicepat dengan waktu. Aku harus mengejarnya sebelum kita menjadi sesuatu yang kedaluwarsa.
Aku juga mengerti penantianmu di setiap dini hari — menungguku mengejar matahari, memburu cerah hati — membuatmu ditikam sepisau sepi.
Kau boleh sebut diriku Sisipus dari Negeri Dongeng. Kau boleh katakan diriku pecundang tolol dari Bukit Sia-sia. Tapi perlu kau tahu, aku pun melakukannya demi kita.
Meskipun itu artinya musim-musim semi yang kulewati dengan sendiri meringkus sepi. Semoga kau mengerti … “
Malam ini, aku ingin kau baca lagi surat itu. Bacalah pelan-pelan dengan hatimu. Kelak kau akan mengertil bahwa hanya satu yang kuinginkan dalam hidupku: melihatmu tidur seraya tersenyum.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010