Dinihari. Dan aku belum juga memejamkan mata. Kenangan tentang dirimu membuat hatiku semak. Menjadikanku selalu terjaga. Seperti yang lalu-lalu.
Kenangan itu tercecer di Hong Kong, kota yang sinarnya terus berkeredep itu. Ontario yang membeku. Moskow yang megah. Swedia yang santun. Singapura yang tertib. Jakarta. Lombok. Bahkan secangkir kopi Kuba di Bongos Cuban Cafe di jantung Orlando, selalu berhasil menyeret kenanganku kepadamu.
Oh ya, kopi. Cairan kental-pahit ini memang selalu menyatukan aku dan dirimu. Tanpa membuat aku dan dirimu menjadi “kita”.
Kopi tak pernah membuat kita bosan pada kehidupan yang menekuk pinggang ini. Kita bahkan selalu punya cara untuk menikmatinya, dengan riang maupun getir. Sesuatu yang mungkin remeh temeh bagi orang lain.
Tapi, dengan dirimu di bangku depanku, yang remeh-temeh itu menjadi sesuatu yang membuat semuanya lebih hidup. Sesuatu yang menjadikan dirimu selalu berarti, dan lebih berarti. Sampai nanti. Sampai mati.
Aku masih ingat satu fragmen ketika kita berada di pojokan Bongo Cuban Cafe di pinggir 1498 East Buena Vista Drive, Orlando. Musim panas. Pengunjung datang dengan baju seadanya.
Dan kamu masih juga cekikikan mentertawakan pasangan manula dari Spanyol yang tak pernah melepaskan gandengan tangan mereka itu. Padahal tanganmu juga selalu menggamit lenganku. Dan kepalamu selalu rebah ke pundakku. Membuat hidungku penuh oleh wangi rambutmu.
“Lucu ya, mereka itu bisa mesra terus sampai tua,” begitu komentarmu waktu itu.
Aku cuma nyengir, membayangkan kita juga akan terus berdua sampai tua. Selamanya. Sebab, duduk pojok di sebuah kafe bersama dirimu yang cerewet, manja, nanya melulu, dan selalu cekikikan, mungkin bukan ide yang jelek. Kamu adalah gagasan yang selalu baru. Kamu seperti matahari pagi. Selalu menghangatkan embun yang bangun setelah dinihari.
Berdua, bersamamu, sepanjang waktu, tentu saja anugerah terindah hidupku. Seperti matahari bagi bumi. Hujan bagi musim panas yang lengas. Kau akan jadi gula bagi kopi pahitku. Topping strawberry bagi secawan Sour Sallyku.
Hanya satu pintaku. Janganlah kau usik telepon-telepon yang berdering di saat-saat tertentu. Usahlah pula bertanya mengapa aku harus berbisik ketika menjawabnya. Itu panggilan dari dunia lain. Sebuah dunia di mana malam tak terasa malam, dan siang begitu menyilaukan.
Bukan. Bukan itu yang terpenting dalam hidup ini. Kamu jauh lebih berharga dari apa pun. Dan layak diperjuangkan dengan cara apa pun. Kamu hanya harus lebih menahan diri. Masa depan toh menunggu sabar.
Kelak, ketika musim gugur sudah berlalu, dan musim semi dalam hidup kita menumbuhkan kembang-kembang harapan, aku pasti akan duduk di sebelahmu lagi. Aku akan bercerita tentang jalan panjang yang baru saja kulalui menuju rumah. Menuju pulang. Kembali ke hatimu.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010