Tentu saja aku masih ingat ketika kita masih selalu membicarakan hari ini: Hong Kong menjelang dinihari, kemilau lampu berwarna-warni di dinding gedung-gedung tinggi, kepiting dan udang yang dibakar di atas arang.
Aku bahkan belum lupa pada pelukanmu yang hangat ketika kita berdua berada di dalam trem yang mengantar kita menuju The Peak.
Gerimis jatuh waktu itu. Airnya meleleh di jendela. Membuatnya berembun. Dan dengan jarimu yang lentik, kau melukis sebuah gambar hati yang retak di jendela kaca itu. Dan hatiku pun ikut tersayat.
Pernah aku kembali mengunjungi The Peak tanpa dirimu, bertahun kemudian. Sendirian berdiri di Sky Terrace yang menghadap ke hamparan hutan beton Hong Kong, aku seperti terlempar ke masa silam. Pada tahun-tahun ketika kita sering ke sana di musim panas.
Tapi tak ada lagi angin yang menerbangkan rambut hitammu yang panjang dan wangi ke mukaku, seperti tanganmu yang kerap membelai wajahku. Tak ada lagi cekikikan anehmu yang membuat turis-turis itu berpaling dengan wajah seperti ayam bengong. Tanpa dirimu di sampingku, lanskap siang itu mendadak berubah bagaikan lukisan Landscape with Good Samaritan Rembrandt yang kelam.
Apakah aku baik-baik saja waktu itu? Kalau yang kamu maksud aku masih bisa berdiri menantang angin yang menerpa di Sky Terrace, tentu saja aku memang baik-baik saja. Jika yang kamu maksud aku masih bisa berjalan menyusuri taman bebatuan di samping museum The Peak itu, tentu saja aku baik-baik saja.
Aku jelas tak baik-baik saja jika yang kau maksud apakah aku masih bisa membedakan warna trem itu merah atau biru. Aku sudah tak baik-baik lagi bila yang kamu maksud apakah aku masih bisa merasakan gerimis yang jatuh.
Sejak kau ke barat, dan aku ke timur, hidup tak pernah sama lagi — seperti ketika Hong Kong diserahkan dari Inggris ke tangan pemerintah Cina. Bukit-bukit cinta di hatiku pun tentu saja masih ada dan berdiri kokoh seperti perbukitan Tai Mo Shan di New Territories. Tapi tak ada lagi yang membuat rumput menghijau dan kembang bersemi begitu kau pergi.
Takdir mungkin telah dinujumkan oleh jari-jarimu di hamparan jendela kaca yang berembun itu. Ketika kau melukis hati yang retak saat itu, aku tahu pada saatnya nanti hati kita benar-benar remuk.
Dan saat itulah kita bakal sama-sama meranggas di malam-malam musim panas. Berjuang sendiri-sendiri meringkus sunyi.
Lantas ke manakah kelak kita akan pulang? Adakah harapan punya rumah? Sayup-sayup aku seperti mendengar suara Sting bersenandung dengan suaranya yang ngelangut …
If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay …
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010