Lapangan Merah, Moskow. Akhirnya kita duduk di sebuah bangku kayu di sana. Bukan di Amazon, Brasil, bukan pula di pinggir jalan tak bernama di sebuah negara di jantung Amerika Selatan seperti yang pernah kita nujumkan di Ottawa, Kanada, dulu.
Aku masih ingat betul bagaimana kamu diam mematung di bawah payung seraya menatap tembok Istana Kremlin. Waktu itu awal musim semi bulan Mei. Lapangan Merah semakin memerah menjelang senja. Gerimis jatuh membasahi sembilan kubah Katedral Santo Basil dan Menara Spasskaya yang berdiri tegak di kejauhan.
Di depan makam Lenin yang agung itulah jejak sejarah Rusia ditulis dengan darah. Seperti namanya, Lapangan Merah dalam bahasa Rusia adalah Krasnaya Ploshchad.
“Krasnaya” memiliki dua makna: merah dan indah. “Merah” adalah simbol darah para pembangkang yang tumpah. Sedangkan “indah” melukiskan keelokan pemandangan di sekeliling lapangan.
Tapi aku tahu, hatimu tak sedang menikmati pemandangan yang menakjubkan itu. Dari status Facebook yang kautuliskan tadi pagi aku tahu betapa berat langkahmu meninggalkan Jakarta demi sesi pemotretan. Warna jingga yang menggores langit pasti tak mampu menggugah hatimu yang sedang resah.
Aku pun begitu. Boro-boro menikmati senja, aku bahkan pasti akan menolak pekerjaan ini seandainya saja aku tahu lebih dahulu siapa yang bakal jadi model pemotretanku. Biro iklan rekananmu itu mungkin bersekongkol dengan takdir sampai memberi kita penugasan yang sama. Padahal aku, dan tentu saja kamu, tanpa perlu bersepakat telah memilih untuk sama-sama menepi. Saling memberi ruang.
Sepulang dari Kanada waktu itu, kita toh jarang bertemu lagi. Aku direndam kesibukan pekerjaan memotret. Kamu pun tenggelam dalam kegiatanmu. Aku tak ingin mengganggumu, meski sesekali aku ingin menemuimu pada malam-malam yang gelisah. Entah demi apa. Mungkin untuk sekadar menyapa dan mengetahui kamu baik-baik saja. Aku cukup tahu diri.
Bertemu dan bekerja sama dalam sebuah pekerjaan jelas bukan gagasan yang bagus. Kita sama-sama tak pernah menginginkannya. Terutama aku. Mungkin. Sejak aku mengetahui ada yang lain di hatimu.
“Aku lelaki tak mungkin menerimamu
Bila ternyata kau mendua
Membuatku terluka … “
Lagu Iwan Fals itulah yang selalu terngiang di telingaku setiap kali mengingat dirimu dan dia. Aku memilih menyingkir ketika dia hadir. Sebab aku merasa tak sedang bersaing dengan siapa pun.
Entah bagaimana hubungan kita jadi begitu rumit tak terperi. Kita memang berpisah. Tapi setiap kali aku pergi, kamu masih saja sesekali mengirimkan SMS atau DM di Twitter. Sekadar mengingatkan agar aku tak terlalu banyak merokok atau bertanya mau kiriman kartu pos dari negara mana.
Begitu sebaliknya. Ternyata aku masih saja mencemaskanmu bila lama tak kubaca ada perbaruan status di Facebook atau akun Twittermu.
Jadi kita kerap berada di ruang dan waktu yang berbeda. Tapi perbedaan itu sepertinya sesungguhnya samar. Aku masih sering menganggap kamu ada di sebelahku.
Dan kamu mengira aku hanya setengah jam perjalanan naik mobil dari rumahmu. Jadi pasti akan langsung muncul di pintu rumahmu begitu kamu menelepon kapan saja: 24 jam sehari, 7 hari sepekan.
Maka, di tepi Lapangan Merah sore itu, aku memilih menyimpan kameraku dan membiarkanmu tenggelam dalam lamunan. Aku tahu pikiranmu tengah mengembara ke satu sosok beribu kilometer jauhnya.
Aku lebih suka kesunyian ini mengapung di udara. Mengalir bersama angin musim semi bulan Mei. Telah kuniatkan dalam hatiku, tak perlu kau memilihku. Aku lelaki, bukan untuk dipilih … seperti senandung Iwan Fals yang pedih itu.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010