Pagi di Ottawa. Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang disiram sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di sela dedaunan.
Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin dingin mengremus kulit. Pedih. Termometer di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat Celsius. Pantes.
Kamu tentu belum lupa pada hari pertama saat kita menginjak Ottawa itu, Jeung. Kamu memintaku menemani karena kamu bilang hendak menggebah gundah di hati. Kamu merasa rumahmu bukan lagi kediaman yang nyaman. Dan hari-harimu bagaikan di dalam tungku yang mendidih. Mami semakin membuatmu tertekan.
Aku mau menemanimu ke Kanada karena kebetulan sedang tak banyak kesibukan. Order pemotretan terakhir telah kuselesaikan dua pekan silam. Sekarang tinggal menunggu penugasan berikutnya dan menerima bayaran. Kupikir daripada bengong tanpa kerjaan, mending mengantarmu liburan. Siapa tahu aku mendapat banyak stok foto di Kanada.
Lagi pula bukankah kata-kata para bijak bestari itu benar adanya.
If you can’t be a pencil to write anyone’s happiness. Then at least try to be a nice eraser to remove someone’s sadness.
Jadilah kita mendarat di Kanada. Dan aku langsung terpesona. Apalagi di depanku ada kamu yang tengah merapikan mafela dan mengancingkan jaket kulit merah kesukaanmu rapat-rapat. Parasmu yang lawa kemerahan tanda kedinginan. Tubuhmu wangi lavender. Bibirmu dari tadi tak berhenti cengar-cengir … iseng. Aku tak tahan untuk mengacak-acak rambutmu.
Pagi itu kamu mengajakku pelesir keliling Ottawa. Kamu bilang hendak memamerkan kota yang selalu membuatmu betah dan melupakan kepedihan yang kamu tanggalkan di Jakarta.
“Jadi kita mau ke mana dulu nih, Mas?” tanyamu.
“Terserah kamu aja deh, Jeng. Aku baru pertama kali pula kemari, tak tahu mana-mana. Sedangkan kamu sudah sering ke sini buat pameran. Jadilah pemanduku, setidaknya pagi ini. Yang penting jangan jauh-jauh ya.”
“Ah, dasar pelasuh,” teriakmu seraya memacik tanganku. “Kita ke Museum of Civilization aja yuk, Mas! Kata petugas di lobi hotel tadi, museum ini adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi.”
Aku mengangguk meski merasa agak aneh. Mosok jalan-jalan pagi kok mengunjungi museum? Apa tak ada acara lain untuk memulai hari? Lagi pula mataku masih berat sebelum menyesap secangkir kopi.
Aku merasa acara wisata kita terlalu dini. Dan aku masih kena serangan jetlag setelah terbang lebih dari 20 jam dari Jakarta kemarin. Aku lebih suka kongko sejenak di kafe atau restoran yang menyediakan sarapan pagi atau menyesap secangkir kopi panas seperti yang dahulu biasa kita lakukan di Jakarta.
Tapi kamu memilih museum. Aku tahu kamu memang pecinta museum. Kamu bahkan sangat aktif ikut kegiatan komunitas Sahabat Museum di Jakarta. Jadi ya tak heran pagi ini kamu mengajakku melihat dunia yang kau suka itu. Apa pun akan kulakukan asalkan kau menyukainya. Dan kamu bahagia. Aku tak ingin kamu terluka.
What hurts more than you not being with me is you being with me and not being happy.
“Percayalah, Mas. Ini bukan museum biasa. Kamu pasti suka. Lagi pula kamu bisa foto-foto aku di sana, sepuasmu deh, Mas.”
“In nude?”
“Your wish!” teriakmu sambil menggebuk punggungku dengan tanganmu yang lembut.
Wangi lavender menyergap indera penciumanku, membuatku bagai kerbau dicocok hidungnya. Dan kerbau itu sekarang tersihir oleh lanskap Ottawa yang memutih bersih dibungkus salju bagaikan sprei hotel tempat aku menginap.
Jadilah kita berlawalata menyusuri trotoar. Langkahmu langkas. Aku terseok-seok di sebelahmu. Untung cuma sebentar. Kamu buru-buru menghentikan bus karena tak tahan gigitan dingin yang kian membekukan tulang. Dan aku bersyukur dalam hati seraya membantin, “Rasain, hihihi ….”
Di mulut Museum of Civilization di tepi Sungai Ontario itu, aku terpana. Promosimu terbukti. Museum itu begitu berbeda dibanding museum-museum di Jakarta. Bentuk gedungnya yang putih terkesan futuristik, seperti potongan kepala robot. Atapnya yang kehitaman melengkung mirip helm.
Dinding dalamnya dihiasi jendela kaca tinggi berderetan. Selasarnya yang memanjang terlihat bersih. Taburan mural-mural di plafon museum mengingatkaku pada film yang getir itu, English Patient.
Koleksi museum yang melukiskan jejak panjang masa lalu Kanada begitu mencengangkan. Museum itu mampu menunjukkan bahwa negeri itu merupakan titik persimpangan aneka budaya dan bangsa.
Di dalam museum yang sejuk itu kita berpalun-palun seraya menikmati setiap koleksi museum.
“Tuh, kamu nggak nyesel ke sini kan, Mas?” katamu seraya senyum melihat ketakjubanku. “Ayo dong, foto-foto aku.”
Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak terus-menerus. Berkali-kali aku mengambil gambar aneka koleksi museum: lukisan, peta kuno, patung-patung Indian, karakter-karakter sejarah. Miniatur masyarakat zaman dulu. Aku tak punya madah lain selain satu kata untuk menggambarkan museum peradaban ini: menggetarkan!
Tapi, yang lebih menggetarkan dawai-dawai hatiku pagi itu tetap kamu, Jeung. Dengan keanggunan seorang putri zaman Renaisans, kamu berjalan sepanjang koridor mengarah ke jendela kaca. Sinar matahari yang menembus kaca membuat tubuhmu menjelma jadi lekukan siluet indah.
Duh, Gusti! aku membatin. Meski hanya sebentar, aku tak akan pernah menyesal bila momen yang indah ini harus berakhir.
Every story has an ending. But in life, every ending is a new beginning.
Perasaanku jadi puspas. Adakah hatimu yang gundah benar-benar telah terhibur oleh Ottawa. Lalu bagaimana dengan gagasan tentang “kita”? Aku dan kamu tak pernah membicarakan secara serius relasi yang membingungkan ini.
Dalam sebuah risalah di dalam notebookmu, aku pernah mencuri lihat tulisanmu tercetak dalam huruf tebal, “Dear God. There are many other guys out there. That’s what everyone else say. But there’s only one problem. I don’t wan’t any other guy. I just want him.”
Him? Siapa? Aku? Lelaki yang membuat perutmu penuh dengan kupu-kupu itu?
Pertanyaan itu tak pernah terjawab sampai sekarang.
Dalam termangu aku mengingat semua kenangan itu. Wajah-wajah lejar para pionir Kanada di Museum of Civilization tak membisikkan apa pun. Mereka hanya seperti mengisyaratkan bahwa dulu tetap abadi di masa lalu. Dan masa depan tak pernah bisa kita tebak kejutannya.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010