Sejarah berulang. Begitu juga lawatan. Dan pekerjaan. Aku kembali ke Taipei bulan lalu. Sebuah maskapai penerbangan memberiku order pemotretan beberapa hotel dan tempat wisata di sana. Manajer marketing yang mengirimkanku ke sini bercerita perusahaannya hendak membuka rute baru. Mereka butuh promosi buat para calon penumpang. Nah, foto-foto pesanan itu katanya akan dipakai sebagai materi promosi dan iklan.
Kali itu aku datang lagi. Sendiri tanpa dirimu, Jeung. Dan Taipei tak banyak berubah dari saat aku mengantarmu. Awan putih mengapung di atas, sebentar panas, sebentar mendung. Udara lengas. Angin mendesir-desir. Jalanan hiruk-pikuk, kendaraan melaju kencang. Gedung-gedung mencakar langit. Apartemen-apartemen warna krem berjejeran. Pohon-pohon kering kesepian di pinggir jalan.
Pengemudi mobil jemputan dari Grand Hotel tempat aku akan menginap, terdiam dalam duduknya di belakang kemudi. Matanya menatap lurus ke depan, nyaris tak berkedip. Tak ada seulas pun senyum di wajahnya. Dingin.
Aku jadi teringat pada parasmu yang juga kerap seperti itu setiap kali kita membicarakan mami.
Ah, sudah berapa tahun aku tak pernah bertemu mami? Apa kabar mami sekarang? Masih sering memasakkah dia untukmu? Aku merindukan masakannya yang tak kalah lezat dari restoran-restoran ternama itu. Dan kamu tahu, aku paling suka aglio olio bikinan mami. Sangat Italia. Olive oil-nya begitu terasa jejaknya di ujung lidah. Sampai sekarang aku belum pernah menemukan aglio olio semantap bikinan mami.
Dulu aku sempat bertanya kepadanya, dari mana mami memperoleh ilmu memasak yang tiada banding itu dan mengapa dia suka sekali membuat aneka menu buat papi.
Mami tersenyum dan menjawab, “Mas, mami beri tahu satu rahasia para perempuan. Kami para perempuan ini menganggap, if we can cook for our man, they will worship for us.”
Dahsyat! Teriakku dalam hati. Sejak itulah aku makin terpikat pada masakan mami.
Tapi aku justru heran mengapa hubunganmu dengan mami begitu rupa hingga tak seperti laut yang memberikan nyaman bagi ikan. Kamu memang pernah bilang merasa bersalah padanya sampai harus meninggalkan rumah. Sampai sekarang aku tak mengerti benar apa sebabnya.
Kamu juga bertekat tak ingin seperti mami. “Karena mami memilih untuk dicintai, bukan mencintai papi. Padahal aku ingin bisa mencintai dan dicintai, Mas.”
“Mengapa mami mengambil pilihan itu?”
“Kata mami, mencintai itu lebih banyak melukai.”
Terus terang aku hanya bisa terdiam seperti ditikam sepisau sepi mendengar penjelasanmu, Jeung. Aku tak habis pikir, mengapa urusan mencintai dan dicintai itu begitu penting buatmu. Tak adakah yang lebih mendesak daripada soal cinta?
Yang aku tahu, hanya butuh satu detik untuk jatuh cinta. Tapi perlu bertahun-tahun untuk mengetahui apa itu cinta.
Sometimes you don’t love that person. You just love the way they love you.
Menjelang sore itu, di tengah jalan tol menuju pusat kota Taipei, aku merasa ada satu masalah yang jauh lebih penting ketimbang memikirkan dirimu dan cinta yang kau inginkan, yaitu bagaimana berbicara dengan pengemudi bertampang lurus ini. Sejak aku duduk di jok belakang Mercedes E Class berkulit empuk, dia hanya diam seribu bahasa.
Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajukan pertanyaan sederhana. “Apa kabar?”
Tapi dia hanya menengok sebentar ke arahku, memamerkan tampang bingungnya, lalu menggelengkan kepalanya seraya menggumamkan sesuatu dalam bahasa Cina.
Alamak! Dua Tarzan bertemu dalam satu kendaraan. Di dalam Mercedes-Benz yang melaju dengan kecepatan lebih dari 100 kilometer per jam itu, aku pun bagaikan terbang ke masa lalu, ketika kau dan aku menyusuri Taipei.
Berkembang pesat sebagai sebuah ibu kota setelah Perang Dunia II, Taipei dulunya adalah lembah Sungai Tamsui yang subur, tempat tinggal sekelompok kecil petani padi dan sayur mayur.
Sekarang ia menjelma jadi kota metropolitan modern yang terus bergemuruh. Setiap malam lampu-lampu neon berpendaran malam menyiram jalanan. Dihuni oleh hampir 3 juta orang – Taipei terbagi menjadi 12 distrik.
Wilayah kotanya dibelah oleh jalan raya. New York’s Broadway dan Chungshan Rd, misalnya, memisahkan bagian timur dan barat. Chunghsiao dan Pateh Roads membagi wilayah utara dan selatan. Pembagian ini sangat berguna bagi para turis menentukan orientasi.
Waktu kita ke sini, kamu selalu mengajakku berlawalata keliling kota. Dan seperti biasa, dengan langkah yang lamban, aku terpaksa mengikuti ke mana kakimu melangkah.
“Ayo, Mas. Cepetan dong. Tokonya mau tutup, tuh. Ih, dasar pelasuh!” begitu kamu selalu menggerutu.
“Dasar ratu belanja! Huh! Belanja kok di Taiwan. KW-2 semua tauk!”
Kamu terkekeh mendegar omelanku. Keriwilanmu tak kudengar lagi menjelang sore ini. Membuatku rindu. Seolah dekat tapi tak terjangkau. Seperti atap Grand Hotel yang mulai terlihat di atas bukit Yuan Shan.
Tanpa sadar, rupanya dari tadi pengemudi itu telah menyalakan pemutar musik digital di dashboard. Aha! Adele menyanyikan Day Dream.
Daydreamer, sittin’ on the seat
Soaking up the sun he is a Real lover, makin’ up the past and feeling up his girl like he’s never felt her figure before
Jaw-dropper
Looks good when he walks, is the subject of their talks
He would be hard to chase, but good to catch and he could change the world with his hands behind his back, Oh…
Suara Adele yang agak serak terdengar begitu syahdu. Aku pun tenggelam dalam lamunan tentang sepotong senja di Taipei bersamamu. Dulu.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010