Aku meninggalkan Melbourne dengan hati yang puspas. Di dalam pesawat Boeing 737-800 yang suhunya membekukan tulang, lembaran-lembaran kenangan datang silih berganti, antara parasmu yang menyejukkan, tawamu yang begitu menyihir, pelukanmu yang hangat, dan kerinduan pada musim hujan.
Ah tentang musim hujan, aku jadi teringat pada pertemuan pertama kita. Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Aku baru saja kembali dari Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, untuk memotret sebuah pertunjukkan.
Didera lelah yang menghantam badan, juga perut yang kelaparan minta diisi, aku menyeret kaki ke kafe yang buka 24 jam itu menjelang dinihari. Tapi ternyata kafe penuh. Semua kursi dan sofa sudah ada orangnya … kecuali satu sofa di pojok.
Aku melihat ada satu perempuan dengan paras datar, bajunya agak basah, dan tampaknya agak mabuk. Dari jarak 5 meter aku bisa melihat maskara dan eyeliner-nya yang luntur melingkari mata yang sembap. Di depannya ada dua cangkir kosong.
Hmmm … apa boleh buat, pikirku. Kuhampiri perempuan itu perlahan dan kusapa. “Maaf kalau saya lancang, tapi meja dan sofa lain di sini penuh. Kalau Anda sendirian, boleh saya duduk di sofa ini dan kita berbagi meja?”
Perempuan itu menengok dengan malas dan membalas ringkas, “Duduk saja, Mas.”
Aha, ternyata perempuan itu bisa bicara! Dan tersenyum ketika melihat kamera yang kutenteng. “Hasselblad?”
Aku terpana. Jarang-jarang ada perempuan yang mengenali kameraku yang warnanya sudah memudar. Dan sekarang ada seorang perempuan mabuk yang bahkan mengetahui mereknya. Wow! Perempuan yang berbeda.
“Iya, H3DII-50,” jawabku pendek.
Rupanya sejarah bisa dimulai dari sebuah kamera. Gara-gara kamera Hasselblad tua dan komentar pendek itu, aku dan perempuan itu berkenalan. Bertukar obrolan. Dari sanalah, kisah kita berawal, Jeung.
Pertemuan dinihari itu membuka lembaran-lembaran buku kehidupan tentang kita berikutnya. Aku jadi mengenal siapa dirimu. Apartemenmu yang sepi. Mamimu yang tinggal di selatan Jakarta. Keluargamu. Juga hidupmu yang perih.
It’s hard to find a good woman now a days because all the good women has had their heart broken tons of times.
Dari sana pula aku makin mengenal dirimu yang begitu menyukai hujan. Tentang hujan, aku juga selalu terkenang pada sebuah liburan kita bertahun yang lalu. Waktu itu, saat aku mengambil cuti, tiba-tiba saja kamu mengajakku ke Taiwan.
“Taiwan? Kamu mau lihat apa, Jeung? Kenapa nggak ke Bali, Lombok, Lamalera, Banda … ” aku bertanya keheranan.
“Pokoknya aku mau kamu menemaniku ke Taiwan, Mas. Titik,” kamu menyergah.
Aku terdiam. Kalau kamu sudah bilang “pokoknya”, itu artinya aku harus mengiyakan.
Never play with a woman’s emotions because when her heart is broken she can be very spiteful.
Begitulah. Kita akhirnya terbang ke Pulau Formosa. Ibu kota Taipei masih seperti dulu ketika aku pertama kali menjejakkan kaki pertama kali. Langit putih di atas, sebentar panas, sebentar mendung. Angin menderu-deru kencang. Jalanan padat, kendaraan bersicepat. Gedung-gedung jangkung. Apartemen krem berdiri berderetan. Satu dua pohon kering di pinggir jalan.
Pagi itu aku cuma sempat menyerumput secangkir kopi dan menjejalkan dua potong croisant ke perut sebagai menu sarapan. Kamu sudah tak sabar menunggu di lobi hotel.
“Cepetan, Mas. Busnya sudah mau berangkat,” kamu berteriak seraya menengok arloji di tangan. “Ih, dasar pelasuh!”
Aku ngakak. Di atas, mendung menggantung. Hari itu kita piknik salah satu tempat wisata terdekat di Taipei: Yangmingshan National Park di kaki Gunung Yangmingshan.
Taman yang berada sekitar 500 meter di atas permukaan laut ini adalah salah satu dari sedikit tempat di mana warga Taipei masih bisa mendapatkan udara bersih dan sejuk. Jaraknya tak begitu jauh dari hotel kita menginap, sekitar setengah jam perjalanan naik bus.
Sepanjang perjalanan, aku mengoceh tentang apa saja yang akan kita nikmati di wilayah pegunungan di bagian utara Taipei itu. Hujan mulai jatuh satu-satu. Kabut turun. Dengan suara yang melodius itu, kamu bersenandung pelan, syair lagu Katon Bagaskara, Meniti Hutan Cemara,
Kabut dingin merendah
Perlahan datang menyapa
Semak-semak tanah basah
Langkah kaki seiring
Pandangan hijau terhampar
Di tepi hutan cemara ….
Tapi tak ada pohon cemara di pinggir jalan menuju Yangmingshan yang sempit, menanjak dan berbelok-belok itu. Mesin bus terdengar menderu, seperti napas orang yang ngos-ngosan ketika mendaki sebuah bukit. Di kiri-kanan berdiri rumah-rumah mewah milik orang-orang asing dan konglomerat Taipei tertutup semak-semak dan pepohonan hijau.
Aku bercerita, di musim panas kita bisa melihat buah ceri bergelantungan di ranting-ranting pohon di pinggir jalan. Dan kamu cuma merengut membayangkan ceri-ceri itu menari-nari.
Tiba di tempat parkir Yangmingshan National Park saat hujan turun dengan lebatnya. Celaka. Kita tak membawa sebatang payung pun.
Untunglah, di pojokan tempat parkir ada satu toko kecil yang menjual payung dan mantel plastik. Tapi meski sudah bermantel plastik, tak banyak yang bisa dilakukan di tengah guyuran hujan.
Setelah menyusuri jalan setapak di tengah taman, aku mengajakmu berteduh di satu-satunya kedai teh berdinding bambu. Lewat jendelanya yang basah oleh air hujan tampak Kota Taipei di jauh di bawah. Seperti biasa, kamu menggelendot manja ke pundakku. Matamu terbang entah ke mana.
Di sekeliling restoran, pohon-pohon terlihat kedinginan, seperti dirimu yang terus memelukku mencari hangat. Ranting-ranting melengkung menahan siraman hujan. Ujung-ujung daun meneteskan air.
Begitu hujan reda, kamu kembali menarikku menyusuri jalan-jalan ke Yangming House yang berada persis di samping lahan parkir kendaraan pengunjung Taman Yangmingshan.
Yangming House adalah sebuah kompleks yang terdiri dari lima bangunan, terdiri dari 1 bangunan utama dan empat bangunan tambahan. Semua bangunan bercat putih itu terbuat dari campuran batu bata, batu kali dan kayu, dengan arsitektur khas Jepang di awal 1900-an.
Berdiri di atas tanah seluas 4.275 meter, kompleks yang berada di tengah sebuah hutan kecil penuh pepohonan hijau itu dulunya merupakan pondok tetirah tokoh nasional Taiwan Chiang Kai Shek.
“Kamu tahu nggak, Jeung,” aku kembali bercerita, “Chiang Kai Shek hanya sebentar tinggal di situ, sekitar 6 bulan. Tapi jejaknya yang panjang bisa kamu lihat sampai sekarang, Jeung.”
“Kelak aku juga pengen bisa terus menikmati jejakmu di rumah kita, Mas,” katamu.
Jleb! Aku seperti merasa ulu hatiku dihantam pukulan jab.
Di dalam pondok ada barang-barang peninggalan Chiang, seperti foto-foto, buku-buku, bekas pakaiannya dan sebagainya. Semua peninggalan itu sekarang dijadikan sebagai atraksi wisata yang bisa ditonton para wisatawan.”
Seperti biasa, kamu memasukkan semua ceritaku itu ke kuping kiri lalu mengeluarkannya ke telinga kanan. Perhatianmu lebih tertarik pada semua isi pondok. Aku melihat matamu berbisar-bisar memperhatikan desain interior dan barang-barang kuno peninggalan Chiang yang bertebaran sambil sesekali berdecak kagum dan berteriak, “Wow, keren!”
“Mas, mas, tolong fotoin kamar itu dong,” katamu sambil menyeretku. “Terus meja itu dong, Mas. Abis itu, lemari kayu di pojok itu ya… eh, eh … isinya juga dong.”
Huh, riwil! Aku bersungut.
Begitulah. Sepanjang siang itu kita menghabiskan waktu di dalam pondok sampai tiba waktunya kembali ke hotel. Mendung masih menggantung. Hujan sebentar lagi jatuh lagi. Kita berlari-lari kecil masuk bus. Sayup-sayup aku seperti mendengar suara Katon bersenandung, Semak-semak tanah basah/Langkah kaki seiring/Pandangan hijau terhampar …
Di dalam kabin Boeing 737-800 yang suhunya membekukan tulang, aku terlempar kembali ke masa sekarang. Bayang-bayang kenangan tentang dirimu lesap ditelan gelapnya malam.
The pain we felt inside makes us realize that we are still alive and suffering … and no one knows.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010