Kita pernah ada
Di satu masa bersama
Walau kini tak sama
Jangan lupakan indahnya …
Catatan hari ini kembali kumulai dari kenangan perjalanan ke Melbourne pada Oktober lalu. Sebuah perjalanan yang dibayang-bayangi masa silam. Tentang dirimu: perempuanku.
Siang itu, setelah dibetot oleh kenangan yang memiuhkan hati, aku bergegas memotret sudut-sudut Taman Fitzroy yang basah. Angin selatan yang dingin menampar wajahku. Pedih. Sepedih ingatan tentang dirimu yang pada suatu masa selalu membuatku nyaman.
Aku ingat, kita sering menghabiskan malam-malam yang resah di kedai kopi di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, yang buka 24 jam itu. Melewatkan waktu dalam senyap. Aku menyunting koleksi foto-foto. Dan kamu membaca majalah desain.
Detik-detik berlalu seperti hujan. Sebentar tapi nyaman. Atau nyaman tapi cuma sebentar.
Nyaman. Itu yang selalu kurasakan ketika bersama dirimu. Dan sekarang aku kehilangan kenyamanan itu. Aku malah menemukan sepucuk kartu pos bergambar bunga-bunga gerbera di toko cinderamata di Fitzroy Gardens, Melbourne.
Kamu pernah bercerita bunga gerbera yang berwarna cerah termasuk dalam famili Aster. Ia melepaskan oksigen di dalam hari. “Cocok buat kamu menderita insomnia, Mas,” katamu.
“Kok bisa?”
“Karena gerbera meningkatkan jumlah oksigen di dalam ruangan sehingga kamu bisa tidur lebih dalam dan nyenyak.”
“Kalau tidur denganmu aku pasti lebih nyenyak, Jeng.”
“Halah, gombaaal … !” kamu berteriak sambil melemparkan bantal sofa kedai kopi itu.
Ingatan tentang pertemuan dan percakapan kita yang diwarnai lelucon gombal seperti itulah yang selalu terpahat dalam ingatanku. Sesekali membuat aku lumpuh. Lalu sesaat berganti keriangan.
Bukan percakapan yang penting memang, tapi justru yang remeh-temeh itulah yang membuat kita tertawa. Lunglai. Dan bertahan bersama. Bersama-sama melewati kelokan kehidupan dan sekujur jalan penuh luka.
The pain isn’t always visible. I hurt more than you can see. My heart is torn into pieces all because I fell for you too easily.
Kamu sendiri yang selalu mengatakan bahwa kamulah satu-satunya yang akan tetap tinggal ketika yang lain pergi. Tentu saja karena kamu satu-satunya orang yang pernah melihatku menangis tanpa air mata.
Barangkali kita tidak seharusnya begini. Tetapi kamu enggan memulai, sementara aku pun tak sudi mengakhiri. Aku sering bertanya, mengapa kamu takut bahagia. Kamu bilang kamu tidak takut bahagia. Kamu hanya takut kecewa.
Lalu aku menatapmu. Kamu memalingkan wajah, meletakkan kacamata baca dan tidak mengatakan apa-apa. Begitu seterusnya.
Setiap kali mengingat sikapmu yang seperti itu, aku merasa kamu bagaikan postcard masa lalu yang tak pernah terkirim ke alamat mana pun. Dan aku hanya bisa menyimpannya dalam laci kenangan.
Ingat dan teruslah kau kenang-kenang semua
Kata-kata tak perlu kau ucapkan juga
Asal kau terus kau simpan dalam sudut jiwa Ku kan dapat merasakannya ….
:: Terima kasih untuk Monita Tahalea yang syair lagunya telah menginspirasi tulisan ini.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010