Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu …
Musim semi di Melbourne. Angin berdesir-desir membawa dingin bulan Oktober ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di bandar udara Tullamarine. Kunaikkan kerah jaket yang membungkus badanku dan bergegas menuju meja imigrasi.
“Welcome to Melbourne, Sir. Have a nice day,” kata seorang petugas imigrasi itu di meja kedatangan. Paras Maorinya yang khas itu memamerkan senyum yang ramah dan bersahabat.
Aku membalas dengan seulas senyum dan berlalu. Jarum jam di atas pintu eksit menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Melbourne sudah sibuk. Orang lalu lalang di trotoar. Kendaraan melaju di atas jalanan beraspal yang licin. Roda-roda trem menjerit berderit-derit.
Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ikon amplop itu berkedip-kedip tanda ada SMS masuk. “Sepertinya sudah mendarat ya?” begitu isinya. “Enjoy Melbourne and the Melbourians ya, Mas.”
Ah, kamu ternyata tak pernah berubah. Hanya kamu yang bisa seperti ini. Kamu tak pernah melupakanku, kehilangan jejakku, meski aku justru tak tahu kamu sedang di mana … bersama siapa. Jaringan telekomunikasi modern lewat telepon genggam telah menghapus batas-batas ruang dan waktu. Kamu bisa saja ada di Praha dalam pelukan lelaki itu. Tapi segenap jiwa dan pikiranmu tak sedetik pun pernah melepaskanku.
Tentu saja aku tak membalas teks singkat itu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku lebih sering mengirimkan pesan pendek ke klien-klien, rekanan, atau para bos di kantor ketimbang ke teleponmu yang tak lelah berdering itu.
Ada kalanya kau cemburu. Tapi kamu tentu juga pasti ingat bagaimana aku selalu meyakinkanmu dengan kalimat yang kukutip sembarangan entah dari mana itu, “Don’t worry about who I’m texting, yours are the only ones I save.”
Aku berharap saat ini kamu masih mengenang kalimat itu dan membiarkan teksmu kusimpan dengan aman di kotak surat telepon genggamku. Aku memilih segera mengejar bus yang akan membawaku ke arah pusat kota Melbourne, kota asri yang dihuni sekitar 5,5 juta penduduk.
Di dalam bus inilah perutku mendadak berkriuk-kriuk tanda minta diisi. Penerbangan selama hampir delapan jam dari Singapura telah membuat perutku langsung menyanyikan lagu keroncong yang sumbang. Mau tak mau, aku harus berkompromi dengan panggilan alam: sarapan.
Begitu bus berhenti di halte, di bawah gerimis yang berderai-derai, setengah berlari aku mencari sebuah kafe Italia kecil di Russell Street. Di dalam ruangan yang hangat itu, aku memilih menu sarapan: dua potong egg benedict, segelas jus jeruk, dan secangkir kopi.
Bukan sarapan yang menginspirasi memang. Tapi lumayan untuk mengganjal perut. Aku tak pernah berhasil memilih menu sarapan yang memanjakan perut. Kecuali bila aku menemanimu sarapan seperti yang dulu sering kita lakukan di Jakarta.
“Sarapan tuh harus dengan cinta, Mas,” katamu membuka rahasia pilihan menu.
“Halah. Cinta? Maksudmu?” “Love is like riding a bike. If you fall, you have to get back up again. Begitu juga sarapan. Kalau pagi ini kamu tak menemukan sarapan yang memenuhi seleramu, coba lagi besok.”
Aku membalas dengan kalimat kutipan yang kuambil dari Twitter, “Three things I want from you: Eyes that won’t cry, lips than won’t lie, and love that won’t die.”
Dan kamu pun tergelak.
Sampai sekarang aku masih geli mengingat perumpamaanmu tentang cinta dan sarapan. Tapi ya cuma kamu yang bisa menghubungkan sesuatu dengan falsafah tentang cinta dan sejenisnya.
Pagi ini aku terpaksa mengenang dirimu. Dengan pahit…sepahit tetesan terakhir kopi hitam yang masuk ke perutku.
Sarapan akhirnya kutandaskan dengan lekas, sekitar 30 menit. Aku mesti bergegas mengejar trem yang akan membawaku ke tempat lain. Ada pekerjaan yang sudah menanti. Klienku memesan serial foto-foto kota yang cantik dan tenang: Melbourne.
Destinasi pertama: Victoria Market. Ini pasar tradisional di Melbourne yang bersih, rapi, dan nyaman. Terletak di pojokan perempatan Victoria dan Elizabeth Street, pasar ini berdiri sejak 1878. Para Melbourians, sebutan untuk warga kota ini, biasa berbelanja daging, buah, dan sayuran segar di pasar ini. Aku berharap banyak obyek foto menarik di sini.
Pagi itu, aku disambut Pasar Victoria yang sudah bergelora oleh teriakan para pedagang. Mereka berteriak menjajakan buah-buahan dan sayur mayur, baju flanel, kaos, barang-barang dari kulit biri-biri dan kanguru, tas, lukisan motif tradisional Aborigin, dan sebagainya.
Setelah kira-kira dua jam mengelilingi pasar dan mengambil stok foto, aku bergerak ke lokasi lain. Ada beberapa pilihan, Parliament Building, St Patrick Cathedral, Fitzroy Gardens, Shrine Remembrance, atau Federation Square.
Aku memilih rute ke Fitzroy Gardens. Ke sanalah aku pernah membawamu bertahun-tahun yang lalu. Di dalam taman teduh yang di dalamnya berdiri Pondok Captain Cook yang sempit. Aku ingat benar, di situlah itulah mengecup keningmu dan berkata dengan lirih, setengah berharap, “He’s not your prince charming if he doesn’t make sure you know that you’re his princess. Leave him.”
Kamu membisu. Sepi. Seperti pondok itu. Hanya foto-foto Kapten Cook dan keluarganya yang menatap kita dengan paras yang lejar.
“Kamu lupa, Mas. Tidak akan pernah ada lagi kita. Aku dan kamu telah memilih jalan yang berbeda. But still, I love you forever.”
“Love me forever is overrated. Give me something timeless,” aku membalas dengan kutipan basi yang kuambil dari Twitter. Setengah putus asa.
Kamu cuma tersenyum.
Itulah kali terakhir melihat dirimu. Dan aku mendadak seperti terlempar ke masa silam saat bus yang membawaku sekarang berhenti di halte di depan taman. Di kejauhan, di atas hamparan rumput hijau, aku melihat Pondok Kapten Cook masih berdiri tegak persis saat aku membawamu ke sini waktu itu. Tapi kita sudah tak lagi seperti dulu.
Hari ini, 1 Februari, kukenang kembali perjalanan yang menyakitkan di bulan Oktober itu dengan hati yang belum sepenuhnya kering dari luka lama. Dan catatan harian ini kututup dengan rasa bagaikan bulan dan bintang dalam syair lagu itu …
Aku sang bulan tak menerangi malammu. Akulah bintang yg hilang ditelan kegelapan ….
:: Terima kasih untuk Pingkan Mambo yang syair lagunya telah menginspirasi tulisan ini.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010