Pagi berlalu bersama angin. Duduk di atas kursi rotan yang agak reyot, aku bagaikan cangkang yang menginginkan kerang dalam salah satu puisi Sitok Srengenge.
Sayup-sayup suara radio mengalunkan sebuah lagu yang meratap, I wanna grow old with you – Adam Sandler.
I wanna make you smile,
Whenever you’re sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
All I wanna do is grow old with you.
I’ll get you medicine when your tummy aches.
Build you a fire if the furnace breaks.
Oh it could be so nice, Growin’ old with you.
I’ll miss you, kiss you,
Give you my coat when you are cold.
Need you
Feed you.
Even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in our kitchen sink.
Put you to bed when you’ve had too much to drink.
Oh I could be the man, Who grows old with you.
I wanna grow old with you….
Siapa pun yang memesan lagu itu ke stasiun radio, aku duga dia tengah mengidap kesepian yang parah. Mungkin baru putus cinta karena ditinggal pacarnya. Atau, aha, mungkin dia justru tengah meledekku. Damn!
Ah, pagi yang lengas di Ambon.
Kulihat kamu menundukkan kepala, membiarkan wajahmu dihangatkan oleh uap kopi dari cangkir di tanganmu. Sejak mendarat di bandara tadi, parasmu kosong tapi menyimpan misteri bagaikan lukisan-lukisan Jeihan. Entah apa yang ada dalam benakmu.
Mungkin kamu menyesal mengambil assignment pemotretan di Ambon bersamaku dan menyalahkan agenmu yang tak memberi tahu bahwa aku ada dalam penugasan yang sama.
Mungkin kamu tengah memikirkan dia yang entah berada di mana. Mungkin kamu sedang mengenang mami. Barangkali juga kamu tak sedang merenungkan apa pun, seperti biasa.
Jadilah pagi itu ada dua orang aneh duduk di beranda lantai lima Hotel Marina. Aku memperhatikan kesibukan warga kota yang bersicepat dengan waktu. Kamu menatap cangkir kopi yang mulai menipis isinya.
Hampir setengah jam kita membisu seperti itu dan tak beranjak ke mana-mana. AKu jadi ingat kamu pernah bilang, “Kita memang dua orang yang tak pernah beranjak ke mana-mana. Mungkin kita memang hanya saling menemukan, meski tak pernah saling kehilangan. Kita adalah dua orang yang kebetulan tengah duduk bersisian: lalu berbagi matahari, laut, langit, kapuk yang beterbangan, cahaya, ilalang, bebatuan, jejak bintang.
Aku akan sesekali pergi. Kamu akan sesekali pergi. Suatu hari nanti, kita mungkin akan pulang. Entah ke mana. Mungkin ke tempat ini lagi. Atau ke tempat lain. Mungkin aku kembali. Mungkin kamu kembali. Mungkin juga tidak. Tetapi semua itu bukan masalah. Karena saat ini kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.”
Sampai pagi ini di Ambon, di bawah matahari yang redup, kita memang belum beranjak ke mana-mana. Aku mulai merasa tak nyaman.
“Kita jalan-jalan saja, yuk. Keliling pasar. Siapa tahu kita dapat foto bagus. Aku mau kirim ke Instagram.”
“Yuk, aku ambil kamera dulu ya, Mas,” teriakmu dengan antusias.
Aku terpana. Tak kusangka ajakanku malah membuat wajahmu berpendar-pendar bagaikan mutiara yang disiram cahaya.
Jadilah pagi itu kita berlawata menyusuri pasar di sepanjang trotoar depan hotel. Dan seperti biasa, kamu memekik-mekik kegirangan setiap kali menemukan dagangan pasar yang menarik buat difoto.
“Itu, itu…itu, Mas. Ikannya lucu. Gede-gede. Eh itu, itu ada tomat. Merah seperti pipiku, hahaha….”
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala kalau melihat kamu sudah seperti itu. Tingkahmu selalu berhasil membuatku terlempar ke masa lalu. Masa-masa ketika kita sering jalan-jalan berdua keluar masuk pasar, mengudap jajanan di kampung-kampung, atau menyusuri sungai hanya karena kamu ingin merasakan dinginnya air dari pegunungan.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan-kepingan waktu yang pernah kita lalui. Momen-momen bahagia yang terjadi begitu saja tanpa rencana. Karena buat kamu kebahagiaan itu sederhana. Biskuit rasa jahe. Langit yang jernih dan penuh bintang. Secangkir cokelat panas. Awan tebal. Matahari terbenam di pinggir pantai. Berjalan telanjang kaki di atas rumput yang basah oleh embun. Menunggu matahari terbit. Memandangi hujan. Berbagi tawa.
Sayang, dulu hanya abadi di masa lalu. Kita tak pernah berbagi tawa lagi sejak dia datang dalam hidupmu. Dan aku memilih kebahagianku sendiri dengan tak pernah tertawa. Sampai pagi itu di pasar tradisional Ambon.
… Oh it could be so nice, Growin’ old with you.
I’ll miss you, kiss you,
Give you my coat when you are cold.
Design by Simon Fletcher. Powered by Tumblr.
© Copyright 2010