January 2012
1 post
9 Februari, 2011: Why Always Me
Paradoks itu kubaca di linimasa Twittermu. ”Ambon is a sad epic.”
Aku membacanya saat kita kita pulang dari Pantai Natsepa menuju Hotel Marina. Kabin mobil senyap. Pengemudi sekaligus pemandu kita selama di Ambon duduk kaku menatap jalanan sambil melamun. Kamu tertidur pulas di jok belakang. Tinggal aku yang merasa sendirian dan daripada bengong lebih baik mengintip linimasa. Siapa...
October 2011
1 post
8 Februari, 2011: Lalu Waktu Bukan Giliranku
Pagi berlalu bersama angin. Duduk di atas kursi rotan yang agak reyot, aku bagaikan cangkang yang menginginkan kerang dalam salah satu puisi Sitok Srengenge.
Sayup-sayup suara radio mengalunkan sebuah lagu yang meratap, I wanna grow old with you – Adam Sandler.
I wanna make you smile,
Whenever you’re sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
All I wanna do is grow old with...
June 2011
1 post
7 Februari, 2011: Murakami
“Memories are what warm you up from inside. But they’re also what tear you apart.”
Aku menemukan baris kalimat yang menggetarkan itu dalam novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore. Kamu meminjamkannya tadi sebelum masuk kamar dan tak keluar lagi. “Daripada bengong, Mas,” pesanmu singkat.
Aku menerimanya dengan enggan. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan di kamar...
February 2011
1 post
6 Februari, 2011: Tentang Pilihan
Lapangan Merah, Moskow. Akhirnya kita duduk di sebuah bangku kayu di sana. Bukan di Amazon, Brasil, bukan pula di pinggir jalan tak bernama di sebuah negara di jantung Amerika Selatan seperti yang pernah kita nujumkan di Ottawa, Kanada, dulu.
Aku masih ingat betul bagaimana kamu diam mematung di bawah payung seraya menatap tembok Istana Kremlin. Waktu itu awal musim semi bulan Mei. Lapangan Merah...
January 2011
5 posts
5 Februari, 2011: Mafela merah lawa
Pagi di Ottawa. Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang disiram sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di sela dedaunan.
Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin dingin mengremus kulit. Pedih. Termometer di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat...
4 Februari, 2011: Senja di Taipei
Sejarah berulang. Begitu juga lawatan. Dan pekerjaan. Aku kembali ke Taipei bulan lalu. Sebuah maskapai penerbangan memberiku order pemotretan beberapa hotel dan tempat wisata di sana. Manajer marketing yang mengirimkanku ke sini bercerita perusahaannya hendak membuka rute baru. Mereka butuh promosi buat para calon penumpang. Nah, foto-foto pesanan itu katanya akan dipakai sebagai materi promosi...
3 Februari, 2011: Hujan jatuh
Aku meninggalkan Melbourne dengan hati yang puspas. Di dalam pesawat Boeing 737-800 yang suhunya membekukan tulang, lembaran-lembaran kenangan datang silih berganti, antara parasmu yang menyejukkan, tawamu yang begitu menyihir, pelukanmu yang hangat, dan kerinduan pada musim hujan.
Ah tentang musim hujan, aku jadi teringat pada pertemuan pertama kita. Waktu itu musim penghujan di awal tahun. Aku...
2 Februari 2011 : Postcard masa lalu
Kita pernah ada
Di satu masa bersama
Walau kini tak sama
Jangan lupakan indahnya …
Catatan hari ini kembali kumulai dari kenangan perjalanan ke Melbourne pada Oktober lalu. Sebuah perjalanan yang dibayang-bayangi masa silam. Tentang dirimu: perempuanku.
Siang itu, setelah dibetot oleh kenangan yang memiuhkan hati, aku bergegas memotret sudut-sudut Taman Fitzroy yang basah. Angin...
4 tags
1 Februari: Bintang yang hilang ditelan kegelapan
Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak memberi warna di hidupmu …
Musim semi di Melbourne. Angin berdesir-desir membawa dingin bulan Oktober ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di bandar udara Tullamarine. Kunaikkan kerah jaket yang membungkus badanku dan bergegas menuju meja imigrasi.
“Welcome to Melbourne, Sir. Have a nice day,” kata seorang petugas imigrasi...
February 2010
1 post
Feb 14, 2010: Selamanya
Perempuanku. Tentu saja kita tidak pernah merayakan yang mereka sebut sebagai Hari Kasih Sayang itu. Kita tak pernah mengatur waktu, lalu pergi ke suatu tempat khusus, berdua saja. Tak pernah ada makan malam berdua dengan lilin yang menyala syahdu.
Tidak. Itu semua tidak pernah ada. Buat aku, setiap hari adalah kasih dan sayang. Untukmu. Selalu. Selamanya. Bersamamu, setiap hari adalah istimewa....
January 2010
13 posts
Feb 13, 2010: Kupu-kupu
Kamu kupu-kupu yang menari di taman hatiku. Begitulah kamu sejak kita pertama kali bertemu. Lalu tiba-tiba saja kamu ada di perutku. Di dadaku. Di kepalaku.
Hatiku tertambat padamu sejak dulu. Kamulah yang mewarnai musim semiku. Menghangatkan musim saljuku. Dan meneduhkan musim panasku. Di dalam taman hatiku, hanya ada satu kupu-kupu: kamu. Tak ada kupu-kupu lain. Bahkan yang masih berupa...
Feb 12, 2010: Sederhana
Apakah artinya bahagia buat kamu? Untukku? Kebahagiaan untukmu mungkin jauh berbeda bagiku.
Aku hanya lelaki sederhana yang merasakan bahagia justru ketika tak memiliki apa-apa. Aku pun baik-baik saja meski setiap hari mencoba bertahan dengan keudikanku di tengah deru kapitalisme, hedonisme, juga kliyeng-kliyeng itu, lengkap dengan neon sign yang berpendar-pendar.
Aku tak pernah menyentuh...
Feb 11, 2010: Waktu
Seandainya aku bisa memutar waktu, aku pasti tak hanya hidup bersamamu di masa lalu, tapi juga musim-musim yang hendak kita tuju. Dulu cuma abadi di masa lalu. Terbuat dari batu cadas. Tak bisa diapa-apakan. Masa depan dapat kita bentuk dari sekarang.
Untuk apa kita hidup di masa lalu? Dunia toh terus bergegas lekas. Gerimis turun. Panas meranggas. Begitu seterusnya. Menuju masa depan. Tapi ini...
Feb 10, 2010: Sepi
Malam ini, aku kembali ke kafe itu. Mencoba memutar kembali kenangan masa silam. Tapi gagal. Kupandang gelas-gelas ice lemon grass yang kosong. Sisa-sisa oglio olio di piring.
Kudengar suara The Titans menyanyikan refrain lagu yang pedih itu … … ku kan pergi jauh bawa cintaku tanpa hadirmu di sisiku ku berharap bintang datang temani langkahku dalam sepi …
Malam ini, aku...
Feb 9, 2010: Rumah
Suratku kepadamu mungkin memang tak pernah kau duga. Pertanyaanku pun mungkin sesuatu yang sulit kau jawab. Bagaimana mungkin kau dan aku hanya berteman setelah semua yang kita lalui bersama? Bagaimana mungkin kita menafikan perasaan sendiri dan melipat kenangan ke sudut hati? Bagaimana mungkin harapan yang baru menyala langsung kita matikan begitu saja?
Mungkin kamu belum lupa harapan itu terbit...
Feb 8, 2010: Vietopia
Mengantarmu pulang, membelah Kota Cahaya menuju Kota Hujan, itu berarti aku bisa menggenggam tanganmu sepanjang 60 kilometer. Itu juga berarti aku bisa mendengar suaramu yang melodius selama 45 menit.
Aku tak peduli bila itu membuat kakiku pegal karena terlalu lama menginjak pedal gas. Aku pun tak keberatan bila itu berarti aku harus menembus hujan yang jatuh bergemuruh. Melewati badai yang...
Feb 7, 2010: Vanila
Dirimu… tak pernah menyadari semua… yang telah kau miliki kau buang aku, tinggalkan diriku kau…hancurkan aku seakan ku tak pernah ada …
Aku mendengar Vierra menyanyikan lagu itu dengan perih di Tea Addict di Jalan Gunawarman pagi itu. Sendirian. Hujan jatuh dan membasahi Jakarta. Dan tempat minum di dekat kantormu itu sedang sepi di jam-jam seperti ini.
Sempurna. Hujan, sepi, dan...
Feb 6, 2010: Mata Hati
Kita memang berpisah hari itu. Pada musim panas yang mendidih. Tapi mungkin kau tak tahu. Ketika kau menyeret koper meninggalkan diriku, seluruh hatiku ikut terangkut bersamamu.
Aku memang tak menoleh waktu itu. Karena aku tahu mata hatiku selalu di belakang langkahmu. Mengikuti dengan takzim ke mana pun kau pergi.
Seandainya kamu lebih sabar dan melihat lebih jernih, mungkin kau bakal tahu...
Feb 5, 2010: Luka
Dari manakah datangnya luka dan air mata? Aku tak tahu. Tapi dari hidup aku belajar merasakannya. Dan lama-lama aku pun terbiasa menikmatinya.
Dari sanalah aku tahu bahwa luka yang paling pedih adalah ketika kita tahu apa yang kita mau tapi tak dapat meraihnya.
Tahukah kamu, justru kamulah luka itu bagiku? Aku tahu aku menginginkanmu. Sangat. Tapi bertahun-tahun kemudian terbukti bahwa sungguh...
Feb 4, 2010: Dinihari
Dinihari. Dan aku belum juga memejamkan mata. Kenangan tentang dirimu membuat hatiku semak. Menjadikanku selalu terjaga. Seperti yang lalu-lalu.
Kenangan itu tercecer di Hong Kong, kota yang sinarnya terus berkeredep itu. Ontario yang membeku. Moskow yang megah. Swedia yang santun. Singapura yang tertib. Jakarta. Lombok. Bahkan secangkir kopi Kuba di Bongos Cuban Cafe di jantung Orlando, selalu...
8 tags
Feb 3, 2010: Embun
Tentu saja aku masih ingat ketika kita masih selalu membicarakan hari ini: Hong Kong menjelang dinihari, kemilau lampu berwarna-warni di dinding gedung-gedung tinggi, kepiting dan udang yang dibakar di atas arang.
Aku bahkan belum lupa pada pelukanmu yang hangat ketika kita berdua berada di dalam trem yang mengantar kita menuju The Peak.
Gerimis jatuh waktu itu. Airnya meleleh di jendela....
Feb 2, 2010: Perlambang
Bintang mungkin sebuah perlambang: bahwa yang sudah mati pun bisa terus bersinar dan terlihat indah dari kejauhan, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian.
Aku mendapatkan kesan itu setelah nyaris setiap malam menggelandang bersama bintang-bintang — sekian purnama setelah kau pergi di pagi yang basah waktu itu. Oh ya, tentu saja aku masih mengingat dengan sempurna setiap detail adegan yang...
Feb 1, 2010: Pada Senja Ini
kubangun rumah ini …untukmu: telaga hidupku dindingnya dari anyaman pelangi dan atapnya dari rinai hujan
ruang dalamnya terang oleh pendar cahaya bintang dan dapurnya hangat oleh sinar matahari
kelak, aku mau rumah ini jadi sebuah album tempat setiap lembaran kenangan tentang dirimu kusimpan
sampai nanti. sampai mati!