Paradoks itu kubaca di linimasa Twittermu. ”Ambon is a sad epic.”
Aku membacanya saat kita kita pulang dari Pantai Natsepa menuju Hotel Marina. Kabin mobil senyap. Pengemudi sekaligus pemandu kita selama di Ambon duduk kaku menatap jalanan sambil melamun. Kamu tertidur pulas di jok belakang. Tinggal aku yang merasa sendirian dan daripada bengong lebih baik mengintip linimasa. Siapa tahu ada kabar seru di sana.
Aku tak tahu mengapa kautuliskan status seperti itu. Mungkin kamu terkesima sekaligus gulana selama di Ambon. Takjub oleh keelokan lanskap yang baru pertama kali kau lihat.
Barangkali karena Ambon yang permai itu pernah porak-poranda dikoyak kerusuhan yang mencekam dan sampai sekarang masih menyisakan kepedihan di sudut-sudut kota.
Pada saat bersamaan mungkin kamu juga merasa ada yang hilang. Karena tak ada dia di sebelahmu?
Memang hanya ada aku di dekatmu sekarang. Dan itu yang selalu membuatku bertanya-tanya. “Why always me?” Mengapa bukan dia?
Mengapa justru hanya ada aku di saat-saat yang mestinya ada dia. Apakah semesta bersengkongkol sehingga kita harus sering kali terdampar di tempat dan waktu yang sama?
Salah besar kalau kamu mengira aku menikmati detik demi detik kebersamaan itu. Aku justru makin tersiksa dan rasanya ingin punya dua sayap supaya bisa terbang meninggalkanmu detik ini juga.
Semakin lama berdekatan denganmu itu rasanya bagaikan dirajam rotan berduri. Aku — mungkin kamu juga — sama-sama tahu bahwa “kita” itu sudah tak ada lagi sejak kau menemukan dia.
Aku sadar sesadar sadarnya, lalu waktu bukan giliranku. Dan hidup jalan terus di jalur masing-masing. Tapi kenapa seolah-olah ada tangan yang selalu mempertemukan kau dan aku di tempat yang sama. Seperti hari itu di pulau yang kecantikannya tiada tara: Ambon.
Lamunanku berakhir begitu pengemudi menginjak rem dan mobil berhenti tepat di pelataran parkir hotel. Dan kamu membuka mata begitu saja sebelum kubangunkan.
“Aku ke resepsionis dulu, Mas. Minta kunci. Tadi katanya kamarku belum siap.”
Aku mengangguk dan naik ke kamarku di lantai atas. Kurebahkan badanku di atas dipan dan menghidupkan TV. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
“Mas, bukain pintu dong!”
Ternyata kamu. “Kenapa, Jeung?”
“Brengsek deh, Mas! Ternyata tak ada kamar lagi buat aku. Padahal katanya kita sudah dipesankan kamar sendiri-sendiri di Jakarta. Tapi waktu tadi aku tanya ke resepsionis, dia bilang kamar habis. Apa-apaan nih? Nggak bener deh. Kalau tahu begini kan mending kita di hotel lain …”
“Sudah, sudah. Sabar … Kalau memang tak ada kamar lagi, kamu boleh tidur di kamarku saja,” kataku mencoba menawar.
Kamu diam dan melemparkan pandangan ke jendela.
“Kamu takut tidur denganku?” tanyaku agak ragu.
“Nggak!”
“Ya sudah, ngapain pindah hotel? Repot. Lagi pula ini sudah sore. Aku nggak yakin kita masih dapat kamar di hotel lain.”
“Iya deh,” jawabmu pasrah. “Aku mandi dulu deh.”
Kamu mandi dengan lekas. Tak lebih dari setengah jam kamu sudah muncul di depanku, begitu bercahaya.
Aku bahkan bisa mencium wangi tubuhmu dari sofa yang kududuki sedari tadi — aroma segar yang dulu selalu aku hirup setiap kali kamu selesai mandi. Tapi cuma itu. Tidak lebih. Aku bahkan tak suka membiarkan hidungku lebih lama lagi menghirup wangi yang begitu memabukkan perasaan itu. Belasan gigabyte dokumen foto sudah menunggu untuk disunting di laptop. Kamu tampaknya juga lebih suka membuka buku Murakami ketimbang ngobrol denganku.
Malam makin tua. Tanpa sadar aku tertidur di sofa. Mendadak aku terbangun selewat dinihari. Kamu mendengkur halus di atas tempat tidur dengan tubuhmu melengkung kedinginan. Kulihat selimut jatuh ke lantai, kuambil, lalu kubungkuskan ke badanmu dengan perlahan supaya kau tak terbangun.
Kulihat paras wajahmu kemerahan terbakar matahari di Pantai Natsepa sepanjang siang tadi. Begitu damai. Ada godaan untuk mengelus pipimu yang halus tapi sesuatu menahan tanganku. Mungkin lebih baik bila aku membiarkanmu lelap dibuai mimpi.
Aku lebih suka menikmati portrait alamiah yang jarang aku saksikan dalam hening seperti ini. Waktu kita memang tak banyak. Dari yang sedikit itu aku bahkan merasa sudah tak ada waktu tak lagi untukku memandang lelap tidurmu.
Fajar sebentar lagi merekah. Aku harus berangkat ke bandara mengejar pesawat pertama. Ada janji pertemuan dengan klien sore nanti di Jakarta.
Rasanya aku tak perlu membangunkanmu hanya untuk berpamitan. Aku tahu betul kamu pun tak akan kehilangan jika aku pergi mendadak seperti ini. Toh kamu bisa meneleponku atau mengontak via Whatsapp kalau mau bertanya aku ada di mana. Lagi pula aku tak pernah suka mengucapkan satu kalimat perpisahan pun.
Pagi itu aku memilih langsung pergi setelah mengepak koper. Satu-satunya yang kubawa darimu adalah kenangan yang tak akan aku lupa: melihatmu tidur seraya tersenyum.
Pagi berlalu bersama angin. Duduk di atas kursi rotan yang agak reyot, aku bagaikan cangkang yang menginginkan kerang dalam salah satu puisi Sitok Srengenge.
Sayup-sayup suara radio mengalunkan sebuah lagu yang meratap, I wanna grow old with you – Adam Sandler.
I wanna make you smile,
Whenever you’re sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
All I wanna do is grow old with you.
I’ll get you medicine when your tummy aches.
Build you a fire if the furnace breaks.
Oh it could be so nice, Growin’ old with you.
I’ll miss you, kiss you,
Give you my coat when you are cold.
Need you
Feed you.
Even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in our kitchen sink.
Put you to bed when you’ve had too much to drink.
Oh I could be the man, Who grows old with you.
I wanna grow old with you….
Siapa pun yang memesan lagu itu ke stasiun radio, aku duga dia tengah mengidap kesepian yang parah. Mungkin baru putus cinta karena ditinggal pacarnya. Atau, aha, mungkin dia justru tengah meledekku. Damn!
Ah, pagi yang lengas di Ambon.
Kulihat kamu menundukkan kepala, membiarkan wajahmu dihangatkan oleh uap kopi dari cangkir di tanganmu. Sejak mendarat di bandara tadi, parasmu kosong tapi menyimpan misteri bagaikan lukisan-lukisan Jeihan. Entah apa yang ada dalam benakmu.
Mungkin kamu menyesal mengambil assignment pemotretan di Ambon bersamaku dan menyalahkan agenmu yang tak memberi tahu bahwa aku ada dalam penugasan yang sama.
Mungkin kamu tengah memikirkan dia yang entah berada di mana. Mungkin kamu sedang mengenang mami. Barangkali juga kamu tak sedang merenungkan apa pun, seperti biasa.
Jadilah pagi itu ada dua orang aneh duduk di beranda lantai lima Hotel Marina. Aku memperhatikan kesibukan warga kota yang bersicepat dengan waktu. Kamu menatap cangkir kopi yang mulai menipis isinya.
Hampir setengah jam kita membisu seperti itu dan tak beranjak ke mana-mana. AKu jadi ingat kamu pernah bilang, “Kita memang dua orang yang tak pernah beranjak ke mana-mana. Mungkin kita memang hanya saling menemukan, meski tak pernah saling kehilangan. Kita adalah dua orang yang kebetulan tengah duduk bersisian: lalu berbagi matahari, laut, langit, kapuk yang beterbangan, cahaya, ilalang, bebatuan, jejak bintang.
Aku akan sesekali pergi. Kamu akan sesekali pergi. Suatu hari nanti, kita mungkin akan pulang. Entah ke mana. Mungkin ke tempat ini lagi. Atau ke tempat lain. Mungkin aku kembali. Mungkin kamu kembali. Mungkin juga tidak. Tetapi semua itu bukan masalah. Karena saat ini kita memang sedang tidak hendak beranjak ke mana-mana.”
Sampai pagi ini di Ambon, di bawah matahari yang redup, kita memang belum beranjak ke mana-mana. Aku mulai merasa tak nyaman.
“Kita jalan-jalan saja, yuk. Keliling pasar. Siapa tahu kita dapat foto bagus. Aku mau kirim ke Instagram.”
“Yuk, aku ambil kamera dulu ya, Mas,” teriakmu dengan antusias.
Aku terpana. Tak kusangka ajakanku malah membuat wajahmu berpendar-pendar bagaikan mutiara yang disiram cahaya.
Jadilah pagi itu kita berlawata menyusuri pasar di sepanjang trotoar depan hotel. Dan seperti biasa, kamu memekik-mekik kegirangan setiap kali menemukan dagangan pasar yang menarik buat difoto.
“Itu, itu…itu, Mas. Ikannya lucu. Gede-gede. Eh itu, itu ada tomat. Merah seperti pipiku, hahaha….”
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala kalau melihat kamu sudah seperti itu. Tingkahmu selalu berhasil membuatku terlempar ke masa lalu. Masa-masa ketika kita sering jalan-jalan berdua keluar masuk pasar, mengudap jajanan di kampung-kampung, atau menyusuri sungai hanya karena kamu ingin merasakan dinginnya air dari pegunungan.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan-kepingan waktu yang pernah kita lalui. Momen-momen bahagia yang terjadi begitu saja tanpa rencana. Karena buat kamu kebahagiaan itu sederhana. Biskuit rasa jahe. Langit yang jernih dan penuh bintang. Secangkir cokelat panas. Awan tebal. Matahari terbenam di pinggir pantai. Berjalan telanjang kaki di atas rumput yang basah oleh embun. Menunggu matahari terbit. Memandangi hujan. Berbagi tawa.
Sayang, dulu hanya abadi di masa lalu. Kita tak pernah berbagi tawa lagi sejak dia datang dalam hidupmu. Dan aku memilih kebahagianku sendiri dengan tak pernah tertawa. Sampai pagi itu di pasar tradisional Ambon.
… Oh it could be so nice, Growin’ old with you.
I’ll miss you, kiss you,
Give you my coat when you are cold.
“Memories are what warm you up from inside. But they’re also what tear you apart.”
Aku menemukan baris kalimat yang menggetarkan itu dalam novel Haruki Murakami, Kafka on the Shore. Kamu meminjamkannya tadi sebelum masuk kamar dan tak keluar lagi. “Daripada bengong, Mas,” pesanmu singkat.
Aku menerimanya dengan enggan. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan di kamar selain menonton TV dan membaca? Moskow pada dinihari tak bagus buat badanku yang tak tahan dingin. Apalagi kulitku selalu alergi bila kedinginan.
Maka pilihanku tinggal membaca Murakami setelah acara televisi pun makin membosankan. Padahal aku belum mengantuk.
Lapangan Merah, Moskow. Akhirnya kita duduk di sebuah bangku kayu di sana. Bukan di Amazon, Brasil, bukan pula di pinggir jalan tak bernama di sebuah negara di jantung Amerika Selatan seperti yang pernah kita nujumkan di Ottawa, Kanada, dulu.
Aku masih ingat betul bagaimana kamu diam mematung di bawah payung seraya menatap tembok Istana Kremlin. Waktu itu awal musim semi bulan Mei. Lapangan Merah semakin memerah menjelang senja. Gerimis jatuh membasahi sembilan kubah Katedral Santo Basil dan Menara Spasskaya yang berdiri tegak di kejauhan.
Di depan makam Lenin yang agung itulah jejak sejarah Rusia ditulis dengan darah. Seperti namanya, Lapangan Merah dalam bahasa Rusia adalah Krasnaya Ploshchad.
Pagi di Ottawa. Langit jingga, seperti warna dinding hotel yang disiram sinar matahari pagi yang meletek. Bayang-bayang pepohonan lindap. Embun merabas. Burung-burung melayap di sela dedaunan.
Jalanan yang diaspal lancap itu lengang. Hanya satu dua prahoto lewat. Lampu jalanan mulai padam satu per satu. Angin dingin mengremus kulit. Pedih. Termometer di depan hotel menunjukkan angka 3 derajat Celsius. Pantes.
Kamu tentu belum lupa pada hari pertama saat kita menginjak Ottawa itu, Jeung. Kamu memintaku menemani karena kamu bilang hendak menggebah gundah di hati. Kamu merasa rumahmu bukan lagi kediaman yang nyaman. Dan hari-harimu bagaikan di dalam tungku yang mendidih. Mami semakin membuatmu tertekan.